IP sebagai Platform Komunikasi
Menonton aksi Jack Bauer menumpas teroris dalam serial 24 adalah hiburan yang mengasikkan. Dalam keterbatasan waktu, dia harus dapat mengamankan negaranya dari serangan teroris. Sebagai agen lapangan, Jack Bauer harus selalu terhubung dengan agen-agen di lapangan yang lain juga tim pendukungnya yang berlokasi di kantor untuk mendapatkan informasi-informasi terkini.
Serial yang sudah memasuki musim kelima ini menunjukkan bahwa komunikasi menjadi sangatlah penting untuk memenuhi tengat waktu. Ini juga yang terjadi di dunia bisnis. Respon kepada pelanggan, memasukkan pesanan sampai pengiriman pesanan harus dilakukan lebih cepat untuk meningkatkan daya saing. Dan jalan untuk mengaktualisasikannya adalah melalui komunikasi intensif, bertenaga dan hemat biaya.
Di zaman modern ini, telepon genggam sudah menjadi senjata mutakhir bagi para ksatria perusahaan agar lebih mudah dihubungi dan menghubungi. Tidak cukup dengan satu perangkat, tidak jarang pelaku usaha juga menenteng telepon genggam, komputer jinjing, personal digital assistant (PDA) sampai penyeranta. Semua ini untuk menambahkan rasa aman dalam usahanya mempermudah komunikasi.
Akibatnya, tanpa sadar para karyawan harus memiliki tas yang cukup besar untuk dapat menampung semua perangkatnya. Akibat lainnya adalah bertambah juga cara yang dipakai untuk menghubungi seseorang. Lewat panggilan telepon, SMS, email, instant messaging dan masih banyak lagi. Apalagi pilihan tampilannya juga bertambah, dari data, suara sampai video.
Di satu sisi, ini memberikan lebih banyak peluang untuk dihubungi. Tapi di sisi lain membuat pemanggil harus menggunakan berbagai cara terlebih dahulu untuk memastikan pesannya diterima. Bagi Jack Bauer, dengan keadaan seperti ini rasanya dia akan diringkus lebih dahulu oleh lawannya.
Presence dan Preference
Hasil riset dari Sage menunjukkan bahwa seseorang rata-rata menggunakan 6 perangkat dan aplikasi untuk sarana komunikasi. Macam-macam perangkat bisa berupa telepon tetap, telepon mobile – dengan lebih dari satu nomor, komputer, PDA sampai pager, ditambah dengan aplikasi komunikasi di perangkat tersebut dari suara, video, SMS, email sampai instant messaging – baik yang secara resmi dipakai oleh lingkungan internal perusahaan dan yang ditawarkan secara cuma-cuma di Internet seperti Yahoo! Messenger. Berdasarkan riset dari Sage tersebut, kondisi banyak perangkat dan banyak aplikasi ini justru menyebabkan 36% usaha pertama melakukan komunikasi gagal, atau berarti pesannya tidak diterima oleh calon tujuan.
Karena itu diperlukan satu protokol yang dapat mengakomodasi semua perangkat dan aplikasi. Protokol yang memiliki kemampuan tersebut adalah Internet Protocol (IP).
Solusi komunikasi berbasis IP memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan sistem komunikasi tradisional, salah satunya yaitu dapat bekerja secara efektif berdasarkan presence dan preference. Artinya solusi ini memiliki kemampuan untuk memberikan informasi bahwa si tujuan saat ini bisa dihubungi lewat perangkat apa dan aplikasi apa, agar komunikasi dapat langsung tercapai dan si tujuan segera memberikan respon.
Tanpa adanya informasi presence dan preference, seringkali kita mencoba berbagai cara terlebih dahulu untuk memperbesar peluang komunikasi dapat tercapai dan segera diberikan respon oleh si tujuan. Merasa tidak cukup mengirimkan email, kemudian kita layangkan SMS, selanjutnya melakukan panggilan telepon, sampai dapat dipastikan terjadi komunikasi dua arah.
Tidak jarang keadaan ini membuat semakin frustasi. Segala perangkat dan aplikasi yang seharusnya memudahkan untuk berkomunikasi, kini justru menjadi kendala karena semakin banyaknya pilihan.
Informasi presence dan preference berusaha untuk menghilangkan kendala tersebut. Seseorang dapat dengan mudah memunculkan tampilan bahwa saat ini hanya dapat dihubungi lewat telepon mobile dan lewat SMS saja. Atau karena saat ini si penerima sedang rapat dan telepon mobilenya harus dimatikan sedangkan laptop masih bisa menyala, maka komunikasi hanya bisa berjalan lewat email atau instant messaging. Informasi ini kemudian dapat dilihat oleh calon pemanggil, untuk memastikan komunikasi sampai tujuan.
Kemudahan-kemudahan ini kemudian menggiring ke penggunaan nomor tunggal. Jika lazimnya karyawan mencantumkan nomor telepon ekstension meja dan nomor telepon mobile, belum ditambah dengan kemungkinan karyawan tersebut memiliki lebih dari satu nomor mobile, kini yang perlu dicantumkan hanyalah nomor telepon ekstension kantor saja.
Ditambah dengan kemudahan bahwa segala perangkat dapat digunakan untuk komunikasi suara. Selain IP Phone, perangkat keras yang diletakkan di meja kantor, softphone yang merupakan peranti lunak dari IP Phone dapat ditanamkan di komputer jinjing, PDA sampai telepon mobile. Dengan berbekal perangkat portable ini, maka satu nomor telepon akan selalu mengikuti penggunanya kemanapun. Menggunakan perangkat apa saja, pada saat terjadi panggilan ke nomor ekstension, perangkat yang sedang diaktifkan oleh pengguna akan turut berdering di manapun pengguna berada selama terkoneksi ke Internet.
Kemajuan teknologi saat ini juga telah mendorong para inovator untuk menjembatani jaringan selular dan Wi-Fi dalam melakukan komunikasi suara. Dengan ditanamkan softphone ke dalam handset ditambah dengan kemampuan nirkabelnya, maka pada saat berada di lingkungan hotspot, pengguna memiliki kebebasan untuk memilih jalur seluler atau Wi-Fi untuk melakukan komunikas suara. Sementara pada saat telepon ekstension berdering, router yang berfungsi sebagai PBX berbasis IP akan meneruskan panggilan tersebut ke telepon genggam, dan selanjutnya terserah pengguna akan menerima lewat jalur yang mana.
Dengan segala kemudahan pada komunikasi berbasis IP ini, semakin mudah kita memahami mengapa Jack Bauer mudah dihubungi oleh rekan-rekannya bukan?
Jaringan Tunggal
Solusi komunikasi berbasis IP, kini telah menjadi platform baru menggantikan jaringan tradisional. Melalui jaringan berbasis IP, maka perusahaan dan organisasi hanya membutuhkan jaringan tunggal untuk mengelola segala bentuk komunikasi dan aplikasinya.
Jika sebelumnya diperlukan sistem pengelolaan dan tenaga ahli yang terpisah untuk jaringan data dan telekomunikasi suara serta video, kini hanya dibutuhkan administrator jaringan untuk mengelolanya. Jika sebelumnya terbentang dua macam kabel, yaitu kabel telepon dan kabel data, kini hanya diperlukan satu kabel data terkoneksi ke komputer dan IP Phone. Keadaaan ini memberikan penghematan di sisi pemeliharaan dan pengelolaan serta mempermudah relokasi karyawan, karena yang dihadapi hanya satu kabel saja sekarang.
Kelebihan lain yang signifikan terasa adalah penghematan biaya komunikasi antar kantor cabang dan para karyawan mobile yang selalu membawa nomor telepon ekstensionnya lewat IP Phone. Saat semuanya terhubung dalam satu jaringan Internet, ini berarti perusahaan tersebut memiliki kemampuan untuk menjalankan komunikasi multimedia dengan beban biaya bisa dikatakan nol.
Untuk memaksimalkan penggunaan bandwidth, maka melalui pipa jaringan dapat dihantarkan data, suara dan video. Infrastruktur jaringan yang cerdas dapat membedakan tipe dari paket yang berjalan di atas jaringan, sehingga dapat dibuat prioritasnya agar komunikasi dapat berlangsung nyaman. Lebih jauh, pada saat melakukan komunikasi real time lewat jalur komunikasi berbasis IP, masing-masing pengguna dapat saling berbagi data dan informasi yang sedang dibicarakan, misalnya materi presentasi atau tulisan untuk diedit bersama, sehingga terjadi kolaborasi yang sempurna.
Tanpa terasa, imajinasi di serial Star Trek yang dulu hanyalah impian kini sudah terwujud. Komunikasi suara lewat perangkat yang semakin kecil sampai komunikasi video beresolusi tinggi yang berbasiskan IP sudah ada di depan mata. Yang belum terwujud dari serial itu adalah “Beam me up, Scottie!”
By Irfan Setiaputra on July 6th, 2007 |

There are 12 comments for “IP sebagai Platform Komunikasi”. Add yours
Murry
Pak,
sangat menarik sekali tulisan bapak. tapi alangkah bahagianya jika dengan bermacam-macam platform tetapi tetap saja kita dapat saling berkomunikasi. Saya pernah melakukan riset mengenai ini dimana seseorang yang memegang handphone tetapi tidak mendapatkan signal GSM, dilain pihak dia mendapatkan signal Wi-Fi dari sebuah komputer yang terhubung ke jaringan internet, tetapi dia bisa berkomunikasi dengan menggunakan handphonenya yang berbasis GSM.
Mungkin teknologi seperti inilah yang nantinya merajai pasar dunia. bagaimana menurut anda?
August 28th, 2007 at 4:53 pm
Irfan Setiaputra
Pak,
saya mungkin lebih ingin bicara sisi devicenya, karena device dimata pengguna adalah yg mengantarkan teknologi yang ada. Dan di masa mendatang, menurut saya device yang akan banyak digunakan adalah device yg dapat membawa visi ‘anywhere, anytime, any device’.
Kalau kasus yang bapak, sebenernya handphone yg memiliki fasilitas wifi dapat tetap berkomunikasi dengan mengaktifkan softphone. Ini adalah software yang memungkin handphone tersebut berfungsi secara nyata sebagai extension number bapak di kantor. Tx
September 6th, 2007 at 10:29 am
afit
teknologi yang anda bahas memang sangat menarik dan hi-tech, tapi bagaimana mengimplementasikannya di negara yang masih “gaptek” dan masih banyak tempat-tempat terpencil seperti di negara Indonesia? bagaimana menurut anda
September 7th, 2007 at 8:40 am
Irfan Setiaputra
Afit,
Soal gaptek sih rasanya gampang2 susah. Edukasi adalah satu2nya cara untuk memperkecil kesenjangan gaptek. Tapi rasanya soal bahwa Indonesia masih gaptek nggak juga tuh. Di kota2 besar terutama temen2 yang muda2 cukup ok.
Soal tempat2 terpencil, itu susah2 gampang….:-)
September 7th, 2007 at 11:24 pm
Farel
Sinkron dengan kebutuhan IPv6 ya pak ?
Lama-lama semua barang2 jadi pintar dan bisa
diberikan ip (kulkas pintar Samsung dah dibuat
prototypenya), kalau menggantungkan pada ipv4
lama2 depleted lah.
Pak Cisco Indonesia jarang mengadakan seminar
yah ? Adakan dong pak sekali2, undang pakar2
jaringan macam Himawan Nugroho, first Indonesian
triple CCIE, selain bagi2 ilmu dan pengalaman, kan
juga bisa memacu motivasi untuk terus bergiat di
bidang networking pak.
Terus ngeblog ya pak..
September 17th, 2007 at 8:24 pm
Irfan Setiaputra
Farel,
Wah soal seminar sering tuh kita ngadaiinnya. Hampir boleh dibilang setiap bulan ada tuh.
Soal Himawan dan mungkin juga ahli lainnya, ada saran bisa share apa dan dengan model/format seperti apa ?
BTW, ada tau kan HImawan sudah member di Cisco ?
September 18th, 2007 at 10:28 am
Farel
Oooo sering ya pak ? Di publish dimana yah ?
Terakhir dateng waktu Bincen mengadakan NNC
(National Networking Competition) di hotel apa
yah, kalo ga salah di daerah Senayan. Atau apa ada
mailing-list yang bisa saya ikuti yang berisi
info2 terbaru tentang networking dan jadwal
seminar2 Cisco? Kalo dari orang Cisconya kan lebih
valid hehehehehe…
Iya, om Him kan masuk Cisco Asia Pacific, sebagai
Advanced Service Team kan pak ?? Nah, itu malah
lebih mudah persuade beliau untuk hadir sebagai
keynote speaker karena sesama Cisco collague
hehehe.. Dia itu down to earth banget, dulu waktu
masih dual CCIE dan saya mau tes CCNA (like heaven
and earth ya pak) tanya2 gimana sejarahnya dia
dulu, cara sampe jadi dual CCIE, dijawab lho pak
email saya, dengan keterbatasan waktu dia. Hebat
tu orang..Formatnya ya bahas tema gede dulu, bapak
yang nentuin (Unified Communication, NGN, atau
malah membahas arti semboyan Cisco “Welcome to
Human Networks”), selesai dari situ ada sesi tanya
jawab atau sesi santai lebih tepatnya, dia cerita2
tentang pengalaman2nya, gimana caranya masuk
Cisco, apa rasanya punya email @cisco.com
hehehehe…, keunggulan jadi CCIE daripada jadi
JNCIE atau HCIE, untung rugi memilih spesialisasi
(security, service provider, dll), cara menghandle
proyek raksasa kerumitan-kerumitan apa yang
dihadapi, gimana rasanya dulu dihormati sama
client2 nya tapi masuk di Cisco duduk di kantor di
sebelah orang dengan 4 CCIE dan JNCIE hahahaha…
Di fasilitasilah pak, dulu sebenarnya kumpul2 gini
ide om Him, sekarang yang ada CCIE kumpul2 sendiri
padahal kan orang2 newbie kayak saya juga pengen
menggali ilmu dengan para jagoan itu..
Tapi ini cuma saran pak..
Terus ngeblog ya pak…
September 18th, 2007 at 12:26 pm
Irfan Setiaputra
nanti saya bicara2 deh sama Himawan…supaya juga sering copy darat
September 21st, 2007 at 7:41 pm
Anthony Fajri
Hi Pak Irfan, salam kenal :)
Saya setuju banget kalo suatu saat akan ada “anywhere, anytime, any device”.
Anywhere, berarti perlu dipikirkan apa media yang cocok. Penerapa Anywhere di tiap negara barangkali berbeda-beda. Anywhere di Singapore mungkin tidak sama dengan anywhere di Indonesia (atau bahkan Jakarta). Bahkan Anywhere di Jakarta mungkin juga tidak sama dengan ANywhere di Bandung.
Contohnya, di sebuah kota, anywhere bisa menggunakan jaringan telekomunikasi 3G (misal: 3G XL, 3G Telkomsel, dll), di kota lain jaringan wireless bisa mencakup seluruh kota (misal: wirelss@sg, denger2 jogja juga punya konsep sejenis).
Anytime. Asalkan anywhere sudah jalan, anytime bisa mengikuti.
Any device. Kalo udah ngomongin device, berarti udah ngomongin produk, yang mana semakin banyak kepentingan bisnis yang bermain di dalamnya. Namun, melihat dari konsep teknologi untuk any device, rasanya open teknologi akan lebih berkembang daripada proprietary teknologi (misal: OSPF vs EIGRP). Jadi suatu saat, bisa jadi telepon meja IP-Phone di meja kantor saya tidak pake produknya cisco buat layer applikasi-nya.
October 20th, 2007 at 7:50 pm
Affan
Dalam pengalaman kita di Indonesia, me-run IP network itu relatif mudah, dibandingkan dengan mengurusi urusan listrik dan grounding di Indonesia yang acakadut. Investasi network yang sudah lumayan mahal harus didukung dengan investasi proteksi listrik dan grounding, belum lagi maintenance nya, kalau nggak gitu ya siap-siap aja kecewa :D
October 28th, 2007 at 11:38 am
Irfan Setiaputra
Anthony,
Bisa saja suatu saat kita tidak punya ketergantungan terhadap merek tertentu. Dan bukankah itu yang selalu diinginkan setiap pengguna?
November 5th, 2007 at 1:46 pm
fran
Lihat ulasan diatas, sptnya untuk Telekomunikasi skrg dan yang akan datang emang UUI ya pak, ‘Ujung-ujungnya IP’.
Dari Teknologi seluler sendiri kedepannya juga bakal mengarah ke ‘All IP Network’. ‘IP Multi Media Subsystem (IMS)’ adalah salah satu jawabannya. IMS ini nantinya bakal digunakan operator2 seluler sebagai standarisasi untuk memberikan aplikasi2 internet dan multimedia ke pelanngannya. Kedepannya IMS juga akan mendobrak batasan2 jaringan cellular, telepon konvensional, jaringan internet,.. Semua jaringan itu akan terintergrasi dengan menggunakan jaringan yang berbasis IP dan dapat digunakan untuk menjalankan aplikasi yang dapat diakses dari semua jaringan tersebut.
Sampai tahun ini saya belum liat IMS ini booming di indonesia, atau mungkin pak irfan punya info yang lebih update, mkn bisa dishare..
salam.
December 16th, 2007 at 9:06 pm