Irfan Setiaputra

toward human networking

Produktif Tanpa Harus ke Kantor

Kota metropolitan memendam berbagai masalah yang harus dihadapi dan dipecahkan oleh warganya. Dari kemacetan lalu lintas yang terjadi sepanjang waktu sampai banjir yang melanda di musim penghujan.

Sementara itu, warga metropolitan harus mampu berpacu di dunia bisnis yang berjalan serba cepat. Kemacetan lalu lintas dapat menghambat gerak perpindahan dari rumah menuju kantor, ke lokasi pertemuan dan akhirnya kembali ke rumah. Dan jika banjir terjadi, ketepatan waktu untuk berpindah-pindah tempat semakin tidak bisa dijanjikan.

Kemudian pertanyaannya, bagaimana dalam kondisi ini kita dapat tetap bekerja secara produktif? Berlama-lama di jalan, jelas menghabiskan waktu produktif. Berangkat di pagi buta dan pulang lebih malam juga bukan solusi yang dirasa tepat, karena berarti semakin pendek waktu yang didapat untuk beristirahat dan berkumpul dengan kerabat dan keluarga.

Salah satu alternatif solusi bukanlah berhubungan dengan lalu-lintas jalanan secara langsung, tetapi bagaimana menggunakan teknologi informasi, terutama Internet, untuk bekerja. Sejak pertama kali Internet ditemukan, teknologi ini memang ditujukan untuk mengubah bagaimanan kita bekerja dan menjalani hidup.

Berbagai koneksi akses Internet sudah tersedia di kota metropolitan. Mulai dari rumah, pusat pertokoan, restoran dan kafe, gedung perkantoran sampai bandara. Mulai dari dial-up, kabel, ADSL dan hotspot yang semakin merebak dan mudah ditemui.

Jika dirasa fasilitas Internet belum dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan bekerja – dimanapun dan kapanpun – sehubungan dengan kapasitas bandwith dan tingkat penetrasinya, hal ini berhubungan langsung dengan pola pikir pasar akan pemanfaatan Internet. Dipercaya fasilitas tersebut akan tumbuh pesat dengan melonjaknya kebutuhan, yang dilatarbelakangi pemahaman bagaimana Internet dapat membuat kerja semakin produktif.

Internet dalam Proses Bisnis

Pada perkembangannya, Internet tidak hanya digunakan untuk sekedar bertukar email dan browsing. Banyak aplikasi dikembangkan untuk dapat berjalan di atas Internet Protocol sehingga bisnis dapat berjalan lebih produktif.

Komunikasi yang dapat dijalankan setiap waktu dan dimanapun termasuk menjadi perhatian utama. Komunikasi suara kini tidak melulu dijalankan melalui telepon tradisional, tetapi telah digelar melalui jalur data.

Perusahaan dengan banyak cabang yang telah terhubung dalam satu jaringan, dapat menikmati penghematan biaya karena biaya yang dikeluarkan untuk melakukan komunikasi antar cabang sudah termasuk dalam biaya bandwidth yang dikeluarkan setiap bulannya. Karyawan yang banyak melakukan perjalanan juga semakin terbantu, mengingat komunikasi berbasis Internet Protocol ini dapat ditanamkan di perangkat bergerak seperti notebook dan PDA.

Jika diperlukan komunikasi secara bertatap muka, Internet Protocol sudah dapat mendukung komunikasi video. Jalur Internet tetap memegang peranan penting kemudahan ini dengan menetapkan quality of services dari penayangan video.

Proses pertukaran informasi juga dapat dijalankan secara lebih cepat. Karyawan dapat dengan mudah menarik data dari sumber data, sesuai dengan kapasitas otoritasnya, melalui Internet. Lebih jauh lagi, suatu aplikasi kolaborasi memungkinkan lebih dari satu karyawan untuk langsung mengedit dan merevisi pekerjaan. Semuanya itu berjalan di atas Internet tanpa dibatasi oleh jarak yang memisahkan.

Aplikasi bisnis lainnya seperti Customer Relationship Management dan Supply Chain Management juga dapat ditempatkan di Internet demi kemudahan menjalankan proses bisnis.

Kemudian kemudahan ini juga ditunjang oleh sistem keamanan jaringan. Sudah menjadi mitos bahwa melakukan pekerjaan menggunakan Internet akan membuka celah keamanan sehingga pihak luar dapat menginterupsi. Tetapi masalah keamanan ini sudah terjawab dengan mengimplementasikan proses otorisasi sebelum pengguna masuk ke jaringan, mengenkrispsi data yang dihantarkan di Internet dan menyediakan jalur aman – seperti Virtual Private Network – walaupun pengguna masuk ke dalam jaringan perusahaan melalui jalur Internet publik.

Perubahan Pola Pikir Perusahaan

Dengan kelebihan-kelebihannya, Internet jelas dapat membantu karyawan menjadi lebih produktif dalam menjalankan proses bisnis. Lebih produktif di sini berarti karyawan mendapat dukungan untuk bekerja tanpa harus dipusingkan bagaimana caranya sampai di kantor untuk mulai bekerja, sementara kita tahu bahwa waktu tempuh di kota metropolitan tidak dapat diketahui dengan pasti.

Tetapi juga jangan disalahartikan segala kemudahan ini dapat membuat karyawan selalu tinggal di rumah tanpa harus ke kantor lagi. Perusahaan sebagai organisasi dan karyawan sebagai makhluk sosial tetap memerlukan tatap muka secara langsung dengan timnya. Yang dihindari di sini adalah karyawan harus bersusah payah menuju ke kantor tetapi melakukan pekerjaan yang tidak memerlukan interaksi dengan sesama timnya.

Pekerjaan seperti membuat proposal, membuat lay-out, mengisi formulir administrasi dan sebagainya tidak harus dikerjakan di kantor. Jika diperlukan komunikasi, maka komunikasi masih dapat dijalankan misalnya melalui email atau instant messenger. Lain persoalan jika menghadapi pekerjaan yang memerlukan tatap muka tim dan debat secara langsung, seperti merancang anggaran atau perencanaan perusahaan tahun ke depan.

Bayangkan jika beribu-ribu karyawan dalam satu waktu yang sama melaju ke daerah sentral bisnis untuk tujuan hanya duduk di depan komputernya melakukan kerja tanpa harus berbicara dengan sesama karyawan lainnya. Waktu yang terbuang percuma di macetnya jalanan membuat karyawan menghabiskan waktu produktif potensial menjadi tidak produktif.

Dalam kondisi seperti ini, seharusnya perusahaan mulai merubah pola pikir bahwa karyawan harus sampai di kantor dan pulang dalam suatu durasi waktu tertentu. Tetapi perusahaan dapat memberikan kebebasan bertanggung jawab bagi karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat waktu.

Dengan berbagai media pendukung, karyawan niscaya dapat bekerja lebih produktif tanpa harus terganggu faktor-faktor penghalang yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan. Selanjutnya karyawan dapat mengelola waktu produktifnya sendiri dengan menentukan jadwal kapan harus ke kantor untuk berinteraksi langsung dengan timnya dan melakukan pertemuan penting dengan kolega bisnis.

Proses kerja seperti ini juga akan memungkinkan karyawan memiliki waktu luang berinteraksi dengan lingkungan di luar lingkup kerjanya, seperti keluarga dan kerabat. Tentunya menyenangkan jika setelah selesai melakukan pertemuan bisnis di jam tanggung, karyawan dapat langsung pulang ke rumah atau bertemu kerabat tanpa harus kembali lagi ke kantor.

Pada akhirnya, teknologi tidak diciptakan untuk membuat manusia menjadi mesin. Tapi justru membuat manusia menjadi lebih manusia.

By Irfan Setiaputra on August 9th, 2007 |

There are 27 comments for “Produktif Tanpa Harus ke Kantor”. Add yours

  1. adis

    Bahkan suatu saat kita mungkin tidak perlu membangun kantor pak ya? cukup tempat buat server….
    munkin gak pak?

    September 7th, 2007 at 9:47 am

  2. Tedi Heriyanto

    Pak Irfan, yang menjadi kendala biasanya adalah masalah trust. Bila karyawan dibebaskan bekerja di rumah, dapatkah perusahaan percaya bahwa hal tersebut yang dilakukan oleh karyawannya. Setahu saya tidak banyak perusahaan yang mempercayai karyawannya sampai seperti ini. :D

    Menurut saya, bila perusahaan dan karyawan bersifat profesional, maka hal ini dapat terwujud. Dan mampu mengatasi beberapa permasalahan yang dihadapi Jakarta, seperti kemacetan, tingginya polusi udara.

    Great article Pak.

    September 7th, 2007 at 1:33 pm

  3. deRegen

    Pak Tedi, bener. Dan sebenarnya banyak yang sudah melakukan hal semacam itu, dan kita juga harus melihat kondisinya. Btw, salam kenal.

    September 7th, 2007 at 8:53 pm

  4. Irfan Setiaputra

    adis,
    kenapa enggak…ruang kantor makin hari juga makin mahal..lama pula untuk pergi ke dan pulang dari kantornya.

    September 7th, 2007 at 10:59 pm

  5. Irfan Setiaputra

    Tedi dan deRegen,
    Setuju sekali dan dibanyak kasus saya melihat bahwa para karyawan tersebut sudah mulai buka ‘kantor’ lain yg tentu saja dari sisi saya sudah mulai merusak sisi integritas. Ini tentu saja membutuhkan kerjasama dari seluruh karyawan.
    Teknologi yang tersedia saat ini sebenernya memungkinkan kita untuk melakukan proses cek and recheck serta meningkatkan interaksi antar karayawan dalam berkolaborasi. Nanti kapan2 saya coba tulis mengenai kolaborasi dan teknologi apa kiranya yang dapat menunjang sehingga dapat lebih manusiawi.

    September 7th, 2007 at 11:06 pm

  6. Romi Satria Wahono

    Masih banyak institusi dan perusahaan yang hanya menjadikan absensi sebagai penilaian kinerja. Ini yang mungkin agak susah diubah pak :) Mudah-mudahan tetap rajin ngeblog pak diantara kesibukan pekerjaan di Cisco :)

    September 9th, 2007 at 1:55 am

  7. Bagus

    salam kenal pak, apa mungkin bisa bergabung di sisco, untuk orang seperti saya yang background teknik, experiance marketing voip & banking, IT sebagai hobby karena hanya otodidak saja, kalo di butuhkan untuk sales & marketing untuk wilayah kalimantan saya bersedia, btw saya tunggu tulisannya pak mengenai bekerja tanpa harus datang ke kantor (dari segala aspek), kebetulan saya mobile.

    September 9th, 2007 at 8:18 am

  8. M. Faisal

    Mengenai adanya karyawan yang buka ‘kantor’ lain, mungkin itu salah satu penyebab adanya kantor yang tidak memperbolehkan browsing internet pak? tapi hal ini bisa jadi tidak ‘manusiawi’ bagi karyawan di era sekarang yang serba rapid informasi.

    September 10th, 2007 at 7:49 pm

  9. Unggul

    Bener banget pak! Kalau gak gitu apalah gunanya internet? BTW, tambah satu lagi nih blog yg bisa aku baca. Keep on blogging sir! Though I’m not a blogger I love to read blogs (the important ones only like yours). Thanks!

    September 10th, 2007 at 11:24 pm

  10. Irfan Setiaputra

    Romi,
    Terima kasih.
    Bagus,
    Jadpri aja gimana ?
    Faisal, itu dia…..saya nggak ngerti kalau ada kantor yg melarang dan membatasi staffnya untuk browsing. Kalau itu dianggap sebagai bagian dari buang-buang waktu, pimpinan perusahaan tersebut rasanya perlu ikut kelas leadership lagi tuh.
    Unggul, Terima kasih…..

    September 11th, 2007 at 3:22 pm

  11. afit

    berarti pernyataan Mr Trump yang mengatakan bahwa “bekerja itu harus berada di kantor sudah tidak relevan lagi ya…?

    September 12th, 2007 at 9:43 am

  12. Narmadi

    kenyataannya kebijakan pimpinan perusahaan masih banyak yang bersebrangan pendapat tentang hal ini.Bahkan parameter penilaian terhadap karyawan juga masih mengarah kepada ketepatan waktu kerja.

    Namun pada industri/bisnis tertentu virtual office makin berkembang pesat dan menjadi solusi dari mahalnya biaya sewa kantor “mohon koreksi jika salah”…:D

    Pak irfan mungkin nggak ya….sertifikasi perangkat telekomunikasi dari cisco menggunakan jasa saya.

    feel free to visit http://www.jasaku.blogspot.com
    Indonesian type approval services

    salam kenal

    September 12th, 2007 at 11:24 am

  13. adith

    masalah “ngantor lagi” itu resikonya pak, tp artinya dia tetep produktip to pak (cuman di tmp lain) ??? hanya integritas & loyalitasnya dipertanyakan…. hihihi

    wah… kantor apaan tu browsing aja g boleh ??
    kalo kantornya disebut katro ato dheso emang mau? kemajuan sdm kan artinya kemajuan korporat juga, la kalo sdmnya berwawasan sempit… kapan majunya ??

    jadi inget paradoks jaman awal saya tau internet, sempet ada yg sewot kalo internet sumber bokep2 aja… tapi setelah bosen ternyata yo banyak manpaatnyah.. :D

    September 13th, 2007 at 4:45 am

  14. Blog Strategi Bisnis

    Tulisan yang bagus, Mas Irfan. Sudah empat tahun ini, saya melakukan “working at home”. Sebagai seorang freelance HR consultant, saya hanya pergi ke “kota” kalau harus bertemu klien. Selebihnya, mengerjakan semua tugas di rumah. Dan saya merasa jauh lebih produktif.

    Ke depan, “working at home” mungkin sebuah pilihan yang paling feasible dan rasional.

    September 13th, 2007 at 11:22 am

  15. Irfan Setiaputra

    Afit,
    Pernyataan tersebut sangat tidak relevan lagi….heran juga si Trump nggak memonitor dunia dengan lebih cerdas.
    Narmadi,
    Soal mahalnya biaya kantor sebenarnya merupakan salah satu alasan, tapi bukan yg utama. Yg utama, menurut saya adalah bagaimana meningkatkan produktifitas individu yang berujung kepada peningkatan produktifitas unit/ perusahaan.
    salah satu bukti peningkatan produktifitas, adalah anda tidak perlu lagi bercapai2 untuk setiap pagi berada di jalanan untuk mencapai kantor dan beraktifitas. Soal sertifikasi, kita saat ini sudah mengunakan jasa pihak ketiga, dan samapi hari kinerjanya memuaskan. Kita biarkan dulu saja ya pak….samapi kita tidak puas…:-)

    September 14th, 2007 at 12:59 pm

  16. Irfan Setiaputra

    Adith,
    Jangan dikira gedung megah, tapi di dalamnya banyak yg nggak boleh browsing. Malahan ada yg tetap bawa modem masing2 untuk browsing pribadi.

    Apa mungkin bisa di share pengaalaman anda sbg HR consultant yang tidak berkantor. Mudah2an bisa mencipatakan insipirasi buat teman2 yang lain…

    September 14th, 2007 at 1:01 pm

  17. Farel

    Salam kenal Pak Irfan,

    Iyah saya juga tertarik dengan ide ini, tapi

    sepertinya susah diterapkan ya pak ? Seperti

    contoh Binusmaya, aplikasi e-learning untuk

    mahasiswa,tetap saja tidak menghapuskan tatap muka

    dengan dosen (sori kalo contohnya OOT pak ^_^),

    saya juga pernah bekerjasama dengan produk N****L

    yang dari Kanada, mereka juga menggunakan mobile

    office tapi cuma untuk keperluan pengambilan

    brosur, dan penentuan harga ke klien, sedangkan

    senin-jum’at ya tetap ngantor. Mungkin harus

    seperti itu ya pak, mau secanggih apa pun

    teknologi yang disajikan, ngantor tetap jalan.

    Atau apakah Cisco sudah fully menjadikan

    pekerjanya sebagai mobile worker ?

    Terus nge-blog pak ^_^ …

    September 14th, 2007 at 4:25 pm

  18. Irfan Setiaputra

    Kantor tetap diperlukan, terutama untuk keperluan2 dimana tatap muka menjadi penting. Yang mesti dihindari adalah ketika tatap muka tidak diperlukan keberadaan secara fisik, tetapi kehadiran di kantor diharuskan.
    Kita di Cisco mmeberikan fasilitas kepada setipa orang yang memungkinkan mereka kerja ssecara mobile. Semua staff di fasilitasi dengan laptop, broadband akses di rumah, fasilitas hotspot bekerjasama dengan beberapa operator. Tatap muka diperlukan untuk meeting internal, maupun kerjasama team.

    September 17th, 2007 at 4:18 am

  19. Narmadi

    Pak Irfan,

    Terima kasih Pak reply comment yang cepat.Saya menunggu tulisan tulisan Bapak Berikutnya..siapa tahu sambil belajar & membaca, kejatuhan projects sertifikasinya….:D
    Salam,

    September 17th, 2007 at 9:50 am

  20. Blog Strategi Bisnis

    Menjalankan pengalaman sebagai “profesional tanpa kantor” alias “working at home” memang cukup asyik. Saya mencoba akan men-share pengalaman ini melalui blog saya di http://strategimanajemen.net
    Jika ada waktu, feel free to drop by.

    September 17th, 2007 at 3:54 pm

  21. adith

    hm… idenya sebetulnya, bagaimana perusahaan mengakomodir wawasan yang bertambah dalam wadah bersama di kantor sehingga kemajuan salah satu sdmnya juga memicu anggota yang lain.

    contohnya ya kayak pak irfan ini…. ngeblog kan g masuk dalam jobdesk anda to ??
    Tetapi, karena anda loyal tetep aja bikin nama cisco indonesia berkibar benderanya dengan cara tertentu.

    Mungkin rada sulit buat anda, karena ada rambu-rambu cisco international. jadi g bisa seenaknya aja mengakomodir seluruh ide-ide karyawannya….

    Wah, saya cuman mahasiswa kok, pak… kirain kantor-kantor di segitiga emas jakarta yang mentereng itu membuat orang enjoyable kerja disana. :D

    September 18th, 2007 at 12:57 am

  22. Jennie S. Bev

    Suatu konsep yang telah saya yakini dan amini sejak lebih dari satu dekade lampau. Dan terbukti sekarang dengan menjalankan bisnis, mengajar, dan berkomunikasi tanpa batas dengan teknologi mobile. Banyak yang bisa diraih dengan time management yang semakin baik, thanks to mobile technology and Internet.

    Salam kenal dari San Francisco Bay Area (Silicon Valley).

    September 18th, 2007 at 8:17 am

  23. Irfan Setiaputra

    Adith,
    Nggak terlalu sulit koq buat saya. Betul ada rambu2, tapi kita perusahaan yang cukup terbuka untuk ide-ide baik untuk keperluan peningkatan produktifitas, ataupun ide2 lainnya.

    September 18th, 2007 at 10:23 am

  24. Irfan Setiaputra

    Jennie,
    Wah kalau gitu saya termasuk agak ketinggalan dong. Boleh juga tuh di share pengalaman2 uniknya.

    September 22nd, 2007 at 11:27 am

  25. Jennie S. Bev

    Pak Irfan, thank you. Pengalaman2 saya ada di blogs. :) Kalau ada yang spesifik, silakan kontak.

    September 22nd, 2007 at 11:39 am

  26. Erfan Arif

    Wah, betul2 bagus tuh, ide ini yg sejak dulu sy idam2kan, kapan nih bisa ngajak saya kerja dg konsep tsb, skrg sy kerja pd bisnis peralatan keamanan (CCTV, fingerprint doorlock access, dll) cabang Malang, yg menganggap rutinitas “fisik” sbg acuan loyalitas kerja.

    October 24th, 2007 at 9:00 am

  27. Edenia

    Bekerja tidak harus ke kantor, sebetulnya bisa membudaya ngga ya? Pengalaman saya, kok malah jauh lebih produktif dan penuh inspirasi, meski banyak aspek yang memerlukan pertimbangan.

    February 18th, 2008 at 10:51 am

Post a comment

Comment RSS 2.0Trackback URI.

Legal Disclaimer
Some of the individuals posting to this site, including the moderators, work for Cisco Systems. Opinions expressed here and in any corresponding comments are the personal opinions of the original authors, not of Cisco. The content is provided for informational purposes only and is not meant to be an endorsement or representation by Cisco or any other party. This site is available to the public. No information you consider confidential should be posted to this site. By posting you agree to be solely responsible for the content of all information you contribute, link to, or otherwise upload to the Website and release Cisco from any liability related to your use of the Website. You also grant to Cisco a worldwide, perpetual, irrevocable, royalty-free and fully-paid, transferable (including rights to sublicense) right to exercise all copyright, publicity, and moral rights with respect to any original content you provide. The comments are moderated. Comments will appear as soon as they are approved by the moderator.

© 1992-2007 Cisco Systems, Inc. All rights reserved.