Irfan Setiaputra

toward human networking

Bekerja Dalam Jarak “Dekat”

cisco_express_trailer.jpg

Work is not a place, it’s an activity. Kalimat ini terpampang di badan trailer Cisco Express. Ini yang sebenarnya terjadi di Cisco.

Sebagai perusahaan yang mengandalkan Internet untuk menjalin kolaborasi antar karyawan, pelanggan, partner dan suplier, maka karyawan Cisco tidak terjebak untuk harus bekerja di suatu lokasi tertentu menggunakan perangkat tertentu.

Saya sendiri banyak menggunakan instant messaging (sementara banyak perusahaan melarang penggunaan aplikasi ini di kantor karena dinilai mengganggu produktivitas) untuk berkomunikasi dengan banyak orang. Instant messaging begitu menyenangkan karena terlihat siapa saja yang sedang online, serta respon pun bisa cepat.

Email juga menjadi aplikasi utama dalam bekerja. Setiap harinya saya bisa menerima banyak email yang harus segera diberikan jawaban. Karena banyak yang harus dijawab, maka saat berada di mobil atau jauh dari komputer pun saya berusaha menjawabnya lewat peranti genggam.

Lebih menyenangkan lagi dengan adanya Unified Communications. Seperti namanya, ini merupakan kumpulan dari berbagai sistem komunikasi yang digabungkan dan diselaraskan dalam satu platform, yaitu jaringan. Menelpon bisa lewat softphone di komputer, tampilan video bisa muncul di layar IP Phone, satu handset bisa jadi IP Phone lewat WiFi sekaligus GSM, menerima voice mail dari email dan seterusnya.

Ada lagi TelePresence, yang menghadirkan peserta rapat dari lokasi berbeda di satu meja virtual. Pertemuan yang seakan-akan terjadi dalam satu ruangan ini dapat terwujud karena didukung oleh video berdefinisi tinggi, dengan menampilkan peserta rapat pada ukuran sesungguhnya serta bertata suara stereo.

Singkatnya, segala teknologi yang mendukung kolaborasi pada saat kita bekerja memungkinkan kita untuk semakin produktif. Komunikasi yang memegang peran penting dalam keberhasilan kerja telah diperkuat kemampuannya untuk menghubungi lebih banyak orang, respon lebih cepat, serta sekaligus menciptakan lingkungan virtual yang sebenarnya masing-masing individu berbeda jarak. Kalau semua pihak berada dalam jarak yang “dekat” akan lebih mudah bekerja bukan?

By Irfan Setiaputra on October 5th, 2007 |

There are 23 comments for “Bekerja Dalam Jarak “Dekat””. Add yours

  1. syamsul

    Instant messaging merupakan sarana yang banyak dipakai sekarang ini, tapi dalam penggunaannya masih terbatas sebagai fun dan yang menggunakannya sebagai sarana kerja masih sangat terbatas.

    Kita masih perlu waktu pengenalan kepada karyawan kita akan manfaat fasilitas ini. Bahwa instant messaging adalah sarana yang bisa membantu mereka dalam bekerja, bukan hanya sebagai sarana ngobrol ngalor-ngidul yang tidak ada hubungan dengan pekerjaan, dan ini yang masih banyak dipergunakan.

    Wassalam,
    Syamsul

    October 5th, 2007 at 12:57 pm

  2. Blog Strategi + Manajemen

    Sebuah posting yang inspiratif ! Work is not a place, it’s an activity….i like this sentence very much. Kalau konsep virtual office/virtual worker benar-benar diaplikasikan, lokasi geografis will become meaningless. Kantor-kantor di Segitiga Emas will disappear…..mobil-mobil dijalanan lenyap…..Freedom from f***ing traffic jam.

    What a beautiful life! What a productive world! Impian saya memang someday will be going home (pulang kampung)….bekerja dari kampung, dan dengan broadband internet, I can still connect to the world.

    Virtual Office adalah sebuah solusi paling jitu untuk menghindarkan kota Jakarta dari mass destruction.

    October 5th, 2007 at 3:30 pm

  3. feha

    Sangat ideal dan menjadi dambaan banyak orang apa yang Pak Irfan kemukakan di atas. Tapi bagaimana dengan kebanyakan pekerja di Indonesia yang sangat kesulitan terkait koneksi Internet?
    Tidak semua perusahaan memberikan fasilitas mobile connection kepada karyawannya. Belum lagi jika ingin berlangganan secara pribadi, nampaknya cukup tidak adil mengingat harganya yang cukup mahal tapi digunakan untuk kepentingan kantor.

    Jadi “dekat” di Indonesia masih tergantung terhadap banyak hal.

    October 5th, 2007 at 9:53 pm

  4. Irfan Setiaputra

    Syamsul,
    Cukup sering saya menggunakannya untuk conference chat..karena mudah dan banyak yang menggunakannya. Kita memang mesti terus menerus melakukan terobosan, dan ketika saya menggunakannya, tentu saja semua staff dapat mengikutinya dengan cepat.

    October 5th, 2007 at 10:07 pm

  5. Irfan Setiaputra

    Syamsul,
    Butuh contoh nyata dari pimpinan kalau mau ‘enforce’ instant messaging. Saya pengguna berat Instant messaging…dan sering sekali kita gunakan untuk conference.

    October 5th, 2007 at 11:02 pm

  6. JM Zacharias

    Pak Irfan,

    Saya tertarik dengan kalimat “Work is not a place, it’s an activity” benar2x merubah paradigma kerja sebelumnya dengan catatan harus didukung dengan teknologi infokom dan teknologi pengendalian diri he2x … maksud saya kl bekerja di luar kantor [misal dari rumah] ya harus dengan spirit kerja yang mumpuni not just based on an activity :).

    Setuju Pak,instant messaging [IM] adalah hanyalah tool, yang penting the man behind the tool he2x … ya kembali ke spirit kerja … kl spirit kerja-nya ok ya pake instant messaging malah bisa meningkatkan produktifitas/efisiensi kerja :)

    Ttg ulasan Unified Communications, saya teringat dengan artikel saya “Seamless Mobility” [2006] http://www.jmzacharias.com/seamless.htm moga2x masih relevan he2x

    salam kenal dari saya bekas anak didik binaan Cisco Networking Academy Program & CCNA yang sekarang “nyawah” di industri telekomunikasi

    October 6th, 2007 at 12:49 am

  7. Amir Karimuddin

    Gimana seharusnya employer mendorong adanya telecommuting yang (seharusnya) efisien untuk kota Jakarta ini?

    October 6th, 2007 at 12:06 pm

  8. Irfan Setiaputra

    JM,
    100% setuju….
    Amir dan Feha,
    Kita di komunitas terbatas pernah punya ide gila untuk memaksa para emplyer bisa lebih endorse telecommuting. Salah satunya, minta supirnya nggak masuk, sehingga mereka bisa merasakan sendiri bagaimana rasanya bermacet2 tanpa bisa melakukan aktifitas lainnya.

    October 6th, 2007 at 12:32 pm

  9. Linux newbie

    paradigma yang bagus pak, memang inovasi teknologi seharusnya bisa membuat paradigma bisnis bergeser ke arah yang makin efisien.
    Produk-produknya yang disebutkan di atas kayaknya bagus kalo dijelasin cara kerjanya ato pake skrinsut.
    Thanks

    October 6th, 2007 at 4:49 pm

  10. Rizkee

    Saat ini kebanyakan dari pekerja kita masih menganggap fasilitas internet yang diberikan merupakan sarana hiburan bukan sebagai sarana penunjang kinerja. maka wajar saja jika akhirnya tujuan sebenarnya tidak terlalu efektif. maka komunikasi yang baik dalam penyampaian tujuan sangat diperlukan antara Manajemen dan karyawan.

    October 8th, 2007 at 8:28 pm

  11. Irfan Setiaputra

    Newbie,
    Nanti kapan- kapan kita share cara kerjanya.
    Rizkee,
    Kalau pihak management melihatnya sebagai semata-mata sarana hiburan, tentu saja akan tidak efektif penggunaanya.

    October 11th, 2007 at 4:15 pm

  12. fisto

    alhamdulillah sekarang kantor saya sudah resmi menggunakan microsofo communicator untuk para employee-nya. dan itu sangat membantu sekali untuk memecah kebuntuan berkomunikasi yang terkadang terlalu berbelit2 jika harus ditulis melalui email, tapi juga masih menjadi keenggganan kalo harus melalui telepon…. nice post, pak! thanks!

    October 13th, 2007 at 11:12 pm

  13. Irfan Setiaputra

    Fisto,
    Alhamdullilah. Boss anda mengerti sekali mengenai perkembangan teknologi dan bagaimana memanfaatkannya. Atau anda memang yang bossnya di situ ?

    October 17th, 2007 at 11:49 am

  14. Hedwig™

    Melihat foto Cisco Express di atas, jadi ingat dengan trailernya Samsat yang setiap minggu “ngetem” di lokasi-lokasi di Jakarta.

    Mungkin bisa juga diterapkan untuk mobilitas dari layanan komputer jaringan. Jadi hari setiap hari berkantor di sekitar trailernya Cisco Express saja
    he he he bisa dapat layanan internet, voip dan sebagainya

    salam

    October 17th, 2007 at 3:32 pm

  15. Irfan Setiaputra

    Hedwig,
    Mudah2an kalau tidak ada halangan Cisco Express akan hadir di Indonesia awal tahun depan dan rencananya kita akan bawa keliling Jawa..
    Disamping itu kita berencana untuk membuat model Cisco Express yang lebih ‘compact’ supaya bisa digunakan untuk keperluan darurat seperti membantu penanganan bencana alam. Doakan saja tidak ada aral melintang..

    October 18th, 2007 at 10:11 pm

  16. Amir Karimuddin

    Saya dengar IBM Indonesia yang pernah mencoba telecommuting ini ternyata kembali pada ide bekerja di kantor. Banyak sekali halangan saat berada di rumah, misalnya kegiatan rumah tangga dan keluarga. Apakah waktu diterapkannya telecommuting ini bapak masih di IBM? Bagaimana pendapat Bapak tentang halangan-halangan semacam ini?

    October 19th, 2007 at 12:06 am

  17. Djunaedi

    Kalau bekerja telecommuting kendalanya adalah gangguan jika dilakukan di rumah, biasalah gangguan dari anak terutama. Cuma keuntunggannya, hemat waktu banget terutama kalau rumahnya jauh di pinggir kota.

    October 19th, 2007 at 8:24 am

  18. Hanny

    Hallo, saya mengunjungi blog ini setelah membaca resensi yang ditulis Robert Adhi KSP di blog beliau.

    Virtual office sendiri menurut saya memang bisa menjadi solusi terutama di kota metropolitan seperti Jakarta–di mana terkadang kita tidak dapat ‘bekerja’ hanya karena tengah terjebak di tengah kemacetan; dan hanya bisa menghadiri 2-3 meeting dalam sehari dengan alasan yang sama.

    Tetapi apakah dengan perkembangan teknologi yang sedemikian itu seseorang bisa punya lebih banyak waktu untuk melakukan interaksi sosial antar pribadi, berkontemplasi, meluangkan waktu bersama keluarga serta orang-orang yang dicintai, dan meningkatkan kualitas hidup?

    Ataukah karena akses yang tersedia 24/7 mereka hanya akan memiliki lebih banyak waktu untuk (lagi-lagi) bekerja, bekerja, dan bekerja–kemudian melupakan yang lainnya?

    Hmm, masalah itu saya rasa harus kita kembalikan pada pengguna teknologinya masing-masing untuk menjawabnya :)

    Salam!

    October 19th, 2007 at 9:20 am

  19. Irfan Setiaputra

    Hanny,
    Betul sekali pandangan anda. Secara pribadi saya sendiri sering terjabak untuk hampir setiap saat mengecek email yang masuk , menjawab email, dan membuka laptop di manapun akses tersedia. Ujung-ujungnya memang masalah disiplin dari setiap individu untuk menggunakan teknologi secara tepat waktu dan ruang.
    Strategynya bisa bermacam-macam. Beberapa teman saya memanfaatkan teknologi ini di rumah hanya pada saat tengah malam setelah keluarga sudah lelap, di mana waktu sebelumnya dapat dimanfaatkan untuk keluarga dan melakukan aktifitas lainnya.
    Ini masalah perubahan kultur. Pelan-pelan setiap individu akan punya cara sendiri menyingkapinya.

    October 23rd, 2007 at 3:26 pm

  20. Nukman Luthfie

    Banyak perusahaan yang masih mengharamkan fasilitas chat di kantor karena alasan produktifitas kerja, security serta biaya. Namun di kantor saya, chat bebas dipakai.
    Saya bisa mengibaratkan chat sebagai pisau. Benda tajam ini bisa mencelakan, bisa pula bermanfaat. Amat sayang kalau kemudian pisau tidak dipakai hanya karena ada efek negatifnya. Sama saja, amat sayang kalau chat tidak bisa digunakan di perusahaan karena melihat sisi efek negatifnya saja, karena efek positifnya juga banyak.

    http://www.virtual.co.id/blog/?p=302

    November 2nd, 2007 at 3:18 pm

  21. Ivana Devi

    Pak Irfan..
    Sy juga setuju IM dan Email is the most easy tools to be connected with my partners and customers. Saat ini belum pake gadget yang canggih such as BlackBerry ato E61 ^^ soalnya biasanya yang canggih tampilannya biasa aja. Karena saya suka yang trendi buat cewe, saya pake Z610i belum symbian si, masih java application, tapi saya pake aplikasi yang membantu, ebuddy messanger dan Morange buat pushmail nya. So far sangat membantu klo saya lagi tidak di kantor tapi butuh access email dan IM. Jadi sambil macet2 di jalan, bisa tetep kerja..

    November 6th, 2007 at 9:03 pm

  22. Mangoen

    Memang trend perkantoran akan berubah ke arah home office. Dan Indonesia sedang (telah) menuju ke arah itu. apalagi di trigger dengan kemacetan di Jakarta seperti saat ini.

    Namun juga betul yang dikatakan oleh rekan di atas, bahwa hubungan sosial keluarga akan terganggu. dan betul juga yang dikatakan pak Irfan, bahwa itu hanya masalah disiplin pengaturan waktu.

    Dari kedua masalah itu, yang saya lihat, di Amerika, yang sudah lebih dulu berada di teknologi home office, mereka justru merasa makin kehilangan hubungan sosialnya… dan berusaha kembali ke model perkantoran biasa (yg tentunya juga tetap dibantu oleh teknologi informasi yang modern) .. artinya, apakah kita harus melalui tahap yang sama seperti mereka, yaitu kehilangan hubungan sosial dulu? — suami istri di rumah .. bekerja… anak merengek… tp karena sedang “bekerja” anak di marahi… sementara si anak bingung… ujudnya ada, tp kok ngga available.. dll, dstnya…)

    Kembali ke masalah home office tadi, ada satu masalah yang masih belum banyak dibicarakan, yaitu masalah keamanan .. terutama data/dokumen perusahaan….

    saya melihat masih banyak pegawai/staf yang belum menyadari untung ruginya kebocoran data perusahaan…

    sumber kebocoran terbesar dan termudah justru email dan messenger.. (misalnya kita ngobrol di messenger.. apa kita betul2 tau bahwa kita bicara dengan orang yang benar (sangat memungkinkan messenger online dan digunakan oleh orang lain… — jangan melihat dr sisi Atasan saja, yang ruangan dan akses komputernya tersendiri.) –belum lagi masalah security komputernya sendiri.. dari yg namanya virus, spam dll.. masalah simple tp real …

    Jadi saya masih melihat masalah sosial dan budaya yang ada di Indonesia.. mungkin akan menghambat lancarnya home office… kecuali kalau kita memang mau mengabdikan diri kita pd pekerjaan… (tidak semua orang akan cepat menyadari “side effect” terhadap kehidupan sosialnya.. mereka hanya merasa modern dan hebat, bahwa bisa bekerja dimana/dari manapun)

    Maaf.. itu cuma pendapat saya dan apa yang saya lihat… mudah2an, bisa jadi bahan diskusi dalam mengembangkan teknologi internet dan kaitannya nanti.

    November 20th, 2007 at 12:35 pm

  23. Kiki Ahmadi

    jika dianalogikan Instant Messaging adalah senjata..

    Kenapa senjatanya yang dilarang ya pak? kok gak orangnya yang di displinkan dalam penggunaan senjata..

    Hmppffhhh *sigh*..
    salam kenal pak..semoga tetap semangat dalam menulis

    January 13th, 2008 at 7:55 am

Post a comment

Comment RSS 2.0Trackback URI.

Legal Disclaimer
Some of the individuals posting to this site, including the moderators, work for Cisco Systems. Opinions expressed here and in any corresponding comments are the personal opinions of the original authors, not of Cisco. The content is provided for informational purposes only and is not meant to be an endorsement or representation by Cisco or any other party. This site is available to the public. No information you consider confidential should be posted to this site. By posting you agree to be solely responsible for the content of all information you contribute, link to, or otherwise upload to the Website and release Cisco from any liability related to your use of the Website. You also grant to Cisco a worldwide, perpetual, irrevocable, royalty-free and fully-paid, transferable (including rights to sublicense) right to exercise all copyright, publicity, and moral rights with respect to any original content you provide. The comments are moderated. Comments will appear as soon as they are approved by the moderator.

© 1992-2007 Cisco Systems, Inc. All rights reserved.