Olahraga: Rekreasi dan Bisnis
Sebelumnya
Menurut para pemerhati olahraga, paceklik emas ini disebabkan oleh regenerasi atlet yang lambat. Atlet-atlet yang sudah bertanding sejak tiga atau empat SEA Games lalu sekarang harus tetap berlaga sebagai atlet, bukannya sebagai pelatih.
Lambatnya regenerasi ini, masih menurut para pengamat, dikarenakan kompetisi-kompetisi tidak berjalan dan tidak seramai dulu. Saya setuju dengan analisa para pengamat ini. Lihat saja gelanggang olahraga Bung Karno Senayan yang seharusnya semarak dan penuh dengan pertandingan olahraga, kini secara kasat mata agendanya lebih banyak tidak olahraga daripada olahraganya.
Arena olahraga bukan lagi hanya menjadi tempat atlet berlaga dan penonton memberikan dukungan bagi atlet kesayangannya. Sekarang ini, arena olahraga harus memiliki kemampuan rekreasi dan bisnis.
Rekreasi dalam arti pengunjung arena tidak hanya untuk menonton pertandingan saja, tapi mendapatkan pengalaman menonton olahraga yang lebih lengkap. Selain mendapatkan kemudahan mendapatkan makanan dan minuman yang mak nyus serta merchandise, arena juga dilengkapi dengan tayangan dan statistik pertandingan di monitor (membuat saya bertanya-tanya kapan display di stadion Bung Karno akan diganti?) bahkan sampai ke perangkat genggam yang dibawa penonton. Di lingkungan arena juga bisa dimasukkan layar display yang interaktif, termasuk untuk pengiklan, memberikan petunjuk arah dan lainnya.
Keamanan juga terjaga karena setiap tiket dilengkapi dengan RFID. Berguna untuk mendeteksi pergerakan penonton dan membagi-bagi wilayah keramaian.
Media juga mendapat perhatian penting di arena ini. Koneksi WiFi bisa didapat di semua sisi arena, sampai ke pinggir lapangan. Para jurufoto yang harus mengupdate setiap saat foto-fotonya ke situs berita, tanpa beranjak dari sisi lapangan bisa langsung mengirimkannya ke redaksi. Para wartawan tulis juga tidak perlu beranjak dari tempat duduknya untuk mengirimkan laporan pertandingan.
Dengan menyediakan pengalaman menonton yang lengkap, maka diharapkan kompetisi olahraga menjadi semakin bergairah. Penonton yang terus datang dapat memberikan pemasukan bagi pengelola arena, pengelola pertandingan dan juga klub. Pemasukan tersebut selain untuk pemeliharaan arena juga digunakan untuk membina atlet-atlet.
Investasi yang ditanamkan di arena olahraga adalah pilihan untuk menggerakkan unsur-unsur pendukung olahraga. Termasuk kelayakan
By Irfan Setiaputra on December 10th, 2007 |

There are 6 comments for “Olahraga: Rekreasi dan Bisnis”. Add yours
Nike
Bener Pak.
Saya setuju.
Saya males klo ikut nonton bola aja, jadi yg ga suka terlalu lama nonton bola bisa pake akses wifi disana. Kan jadi ndak bosen :)
December 11th, 2007 at 8:22 am
zidan
Salah satu contoh lingkaran ayam telur mas, dimana selama apresiasi negara terhadap olahraga dan pelaku olahraganya masih minim, jangan harap olahraga kita akan berkembang. Contoh nyata misal PSSI, pengaruh politik sangatlah kuat disana, dimana PSSI hanya jadi kendaraan politik kekuasaan dibanding pengembangan nyata terhadap sepakbola.
December 12th, 2007 at 11:55 am
Tony
Interesting posting, I’d like to comment that RFID in sport could actually help us winning the next Sea Games….
See my posting at : http://tonyseno.blogspot.com/2007/12/rfid-and-football.html
December 13th, 2007 at 5:15 pm
dimasu
menyedihkan..
di ajang sepakbola nasional, pengeluaran malah banyak dikeluarkan untuk gaji pemain asing yang milyaran rupiah seorangnya..
di ajang lain, tak ada investasi yang berarti..
Kita bangsa besar. tunjukkan kepada dunia bahwa kita bangsa besar di atas bangsa2 lainnya!
sayangnya, (mungkin) para pengurus olahraga itu tidak berpikir jika mereka akan mengenakan merah putih di dada untuk misi sea games ini..
December 15th, 2007 at 8:39 am
Hedwig™
Pembinaan secara terus menerus adalah sebuah usaha yang seharusnya dilakukan, sementara teknologi dapat mendukung usaha ini.
Jika dilihat ke belakang, Angelique Wijaya, pernah mencapai ranking 55 tunggal putri dunia dan berhasil mengumpulkan total hadiah uang sampai lebih dari 500.000 USD hanya dengan binaan keluarganya saja tanpa melibatkan pelti.
Mungkin lebih baik olah raga diurus oleh para peneliti yang selalu mencari inovasi terbaru daripada sekedar mencari uang…. mungkin.
December 19th, 2007 at 4:58 pm
Farel
Yang malu2in itu sikapnya Menpora waktu nonton
pertandingan taekwondo, pakai mengancam menarik
mundur semua atlet lagi.. Padahal memprotes wasit
sih bukan level Menteri cukup ketua kontingennya..
Toh hasil akhirnya cuma posisi 4, kalah 3 kali
lipat perolehan emas tuan rumah..
Mengenai RFID, kemarin sudah benar2 diwujudkan
sama Adidas jadi RFID nya dimasukkan ke dalam bola
tujuan utamanya untuk mencegah kontroversi sah
tidak nya sebuah gol dan tes perdananya digunakan
waktu final Piala Dunia Antarklub kemarin (yang
dimenangkan Milan dengan skor 4-2 viva Milan!!
^_^) Wah pak Tony rupanya punya visi ke depan juga
yak, bener tu pak jadi kaya main gem aja, semua
pergerakan pemain dan bola jadi bisa dianalisa,
jadi ketahuan harusnya pola dan pemain2 siapa yang
harus dipasang.. Hehehe Viva Milan dan Viva Human
Networking !!
December 19th, 2007 at 5:13 pm