Kelas Tanpa Batas
Satu artikel di www.detikinet.com menggelitik saya. Benarkah Internet membuat otak mahasiswa tumpul dan menghasilkan tugas-tugas kuliah yang tidak bermutu?
Saya justru lebih melihat Internet sebagai sarana bagi para murid dan juga tenaga pengajar untuk mendapatkan materi pendidikan yang kualitasnya setara. Artinya selama mendapatkan koneksi Internet, murid dan tenaga pengajar bisa mendapatkan konten pendidikan baik berupa tulisan, suara ataupun video yang sama.
Tenaga pengajarpun dapat berbagi keahliannya. Tanpa dibatasi lokasi dan tanpa melakukan perjalanan, pengajar dapat “berdiri di depan kelas” di banyak lokasi sekaligus melalui tayangan video.
Hasil karya-karya para murid juga dapat diakses oleh murid lain di lain tempat. Sehingga proses berbagi referensi berjalan lebih cepat dan luas.
Dengan kemampuannya ,Internet memberikan keuntungan lebih banyak di area pendidikan. Internet dapat mendorong siswa dan guru untuk mengubah pola belajar yang sebelumnya lebih terkonsentrasi di dalam kelas serta memberikan jalan mendapatkan informasi tambahan selain dari buku saja. Pada akhirnya setiap individu memiliki kebebasan untuk mengembangkan pengetahuannya tanpa batasan fisik.
By Irfan Setiaputra on January 17th, 2008 |

There are 14 comments for “Kelas Tanpa Batas”. Add yours
adit
sayang sekali, url detik yg bapak tampilkan tidak spesifik, sy tidak bisa membaca artikel tersebut
apapun isi yg dijelaskan artikel tsb, yang jelas internet hanyalah tool tergantung manusianya mau memanfaatkan ke arah positif atau tidak
dalam konteks pencarian tugas mata kuliah, internet hanya mempermudah, tidak lebih, sy rasa tidak ada hubungannya, kemudahan dalam penggalian informasi dihubungkan dengan ketumpulan otak …
January 17th, 2008 at 11:00 am
feha
menurut saya artikel itu muncul karena ada kecenderungan untuk pelajar/mahasiswa yang disurvey/diteliti oleh sang profesor menjadi ‘menggampangkan’ proses pendidikan…….
mereka merasa bahwa tanpa proses belajar mengajar yang normal pun mereka bisa mendapatkannya dengan mudah di Internet….termasuk dalam mengerjakan tugas2nya.
jd menurut saya sudut pandangnya sedikit berbeda
January 17th, 2008 at 12:10 pm
amir
mau nambahin berpendapat. kalo melihat pernyataan dari pak profesor, pendapat itu sepertinya muncul karena mengamati proses belajar yang tidak benar dan mencari gampangnya saja.
kalo melihat dari pernyataan pak Irfan, pendapat itu (diskusi di luar kelas) muncul dengan melihat proses belajar yang benar.
tapi the rest, setuju dengan pak Irfan, internet membuat cara belajar menjadi menyenangkan, akan tetapi tidak berhenti dengan belajar dari internet, diskusi diluar jam kelas tentang topik pelajaran yang ada di internet, akan membuat proses belajar menjadi lengkap. selain itu, karena internet, terjadi pemerataan “standar” pengetahuan, sehingga internet menjadi tools yang ampuh untuk memenangkan persaingan di tingkat global
January 17th, 2008 at 7:09 pm
Narmadi
Saya sependapat bahwa internet sangat membatu untuk dijadikan sebuah fasilitas atau referensi tambahan.
Bahkan saya sudah mendengar akan dibentuk National Education Exchange Technology di Indonesia. jika ini terealisasi kita diberi fasilitas online untuk mendapatkan materi kuliah dam mendapatkan ijazah kampus lain tanpa harus datang secara fisik ke kampus tersebut. Semoga…
January 18th, 2008 at 11:05 am
susan
soal info dari internet, tergantung pemanfaatannya. Karena ‘ruang’ internet sangat luassss sekali. Saya malah concern dg komunikasi lewat internet. Andaikan saja komunikasi antara dosen dan mahasiswa (baca :murid dan guru) juga bisa dilakukan lancar lewat internet, termasuk diskusi dan acc tugas, betapa mudahnya dunia pendidikan. Faktanya, masih banyak guru (bahkan guru senior) yang merasa tersinggung bila muridnya berkomunikasi lwt email. Yahh terpaksa, subuh2 nangkring di depan pagar rumahnya utk bisa ketemu, sekadar acc tugas bulanan. Itu zaman sy kuliah bbrp tahun lalu. apa sekarang masih begitu? Ternyata masih! Di perguruan tinggi terkenal pula di bdg. walah..
January 25th, 2008 at 12:06 pm
blonty
Cisco memang asyik. Salut!
Saat dalam penantian kedatangan jasad Soeharto di Bandara Solo, saya ditelepon orang Cisco (yang tidak saya kenal sebelumnya) menanyakan dimana paling tepat memasang peralatan wireless di kompleks makam Giribangun.
Selain menanyakan lokasi, dia menanyakan berapa banyak orang yang memerlukan akses hotspot. Saya jawab, semua fotografer dan jurnalis memerlukannya untuk keperluan tugas jurnalistik.
Sekali lagi, salut.
salam,
blt
January 30th, 2008 at 1:01 pm
Verdinand Siahaan
Saya setuju sekali dengan pendapat Bapak.
Kayaknya hampir semua pakar marketing online sudah ngomong kaya gitu.
Cuma satu kelemahannya:
Tarif warnet di daerah mahal!
Di daerah saya untuk satu jam ngenet dengan fasilitas buruk 4000/jam.
Saya kira yang harus dijawab sekarang adalah:
bagaimana mempercepat proliferasi akses internet murah dan cepat.
Verdinand- menunggu jawaban Bapak.
February 4th, 2008 at 4:17 pm
Irfan Setiaputra
Soal tarif warnet yg mahal….sabar…bentar lagi sih mestinya turun. kalau nggak turun2…anda pindah aja ke tempat yang lebih murah. Rp 4000/jam sih kelihatannya memang terlalu mahal.
Blonty…soal pak Harto kemaren….sebenarnya kita udah sediakan beberapa hari sebelum beliau wafat. Saat itu kita perhatikan waktu pak harto masih statusnya sakit, teman2 wartawan pasti kesulitan untuk kirim berita dan foto. Jadi kita sediakan aja secara gratis akses internet lewat 3G. Lumayan tuh..banyak yang memanfaatkannya.
Waktu beliau wafat, kita putuskan ikut kirim 3G routernnya ke Solo..
Ke depan, kalau teman2 wartawan butuh akses seperti itu boleh juga hubungi kita. Gratis koq…dan mudah2an bermanfaat.
February 8th, 2008 at 6:25 pm
blonty
terima kasih, Mas Irfan.
lain kali bisa kontak-kontakan.
kalau ada kesempatan ke solo, silakan berkirim kabar. ada banyak program (di kepala saya) yang mungkin bisa dikerjakan bersama Cisco.
salam,
blt
http://solo.dagdigdug.com/
February 11th, 2008 at 12:43 am
alfin
Saya salut dengan cisco, semoga cisco dan sebagian dari kita bisa membangun bangsa ini yang sdh semakin terpuruk dan tertinggal hampir dalam segala hal
February 14th, 2008 at 12:34 pm
Irfan Setiaputra
Alfin, terima kasih.
Ke Solo insya allah kesana. Gini2 saya ini orang solo juga….Rumah keluarga di Kauman..
February 15th, 2008 at 10:48 am
Stephen Dawni Nugraha
Tahun 1996, saat itu saya masih kelas 3 smp d wonogiri (45 km dari solo ke arah selatan)
.
membeli buku yang berjudul Golden Formula: Scientifict Methode-18 (saya lupa judulnya karena bukunya masih ketinggalan di kosan Bandung) karangan seorang wiraswasta di bidang Scientifict Tools di USA(saya lupa namanya) tapi buku itu merupakan ulasan populer dari thesis Ilmiah seorang Doktor Biologi bernama Keneth B.Crooks.
Jadi sangat enak untuk di baca.
Buku itu bercerita bahwa selain Pengetahuan/Informasi ada hal yang sama pentingnya yaitu Metode Ilmiah atau tecakup di dalamnya Metode Berpikir untuk dapat mengelola semua Informasi/Pengetahuan yang ada di depan kita menjadi bermanfaat.
Buku itu dibuat sekitar pertengahan 80-an, dan ada istilah dalam buku itu yang setelah saya di kampus tahun 2001 lebih populer dengan sebutan Internet.
Buku itu menulisnya sebagai DISH, singkatan dari Digital Information Super Highway. Jadi DISH (baca:Internet) ini bisa merupakan keuntungan dan kerugian.
Keuntungan jika setiap orang mampu mengelola semua informasi di Internet/DISH dengan Metode Ilmiah yang benar.
Kerugian jika setiap orang tidak mampu mengelola sekian banyak informasi yang ada di Internet/DISH menjadi Informasi yang dapat memberi manfaat.
Bukan berarti, seandainya di sebuah tempat terpencil ada Internet maka peradaban orang di situ menjadi lebih maju. Kalo orang2 si situ masih berpikir dengan cara berpikir yang primitif ya kondisi akan tetap sama saja.
Disini pentingnya edukasi yang menyertai pemerataan Internet.
Karena bagaimanapun juga asal muasal Internet dan Infrastrukturnya muncul dari “otak manusia” juga. Lebih tepatnya muncul dari “urut-urutan berpikir/metode ilmiah/metode berpikir” untuk mendapatkan manfaat kehidupan yang lebih baik.
Maka sangat penting, selain penjejalan Informasi yang sangat banyak dari sebuah infrastruktur Internet juga disertai Edukasi ke Publik untuk menggunakan Informasi tersebut sebagai manfaat untuk peningkatan kehidupan lokal.
February 18th, 2008 at 11:10 am
Supermance
Apa kabarnya sekolah gratis di Jakarta ? Mau pinter kok mahal.
Jalanan boleh macet, Sinetron boleh merajalela dimana-mana, Korupsi boleh banget, Pengangguran boleh meningkat, Timpang sosial boleh tinggi … tapi ya masa mau begini terus, saat nya pendidikan jadi prioritas utama.
Kangen kepemimpinannya Presiden Soekarno euy …
July 18th, 2008 at 9:19 am
alfin
semoga link ini bisa menambah “materi” utk sekolah tanpa batas, ada packet tracer movie tutorial (simulator cisco), ada Handbook CCNA dan ada Crack Pathloss utk yg beljar GMD http://sinauonline.50webs.com/Download%20Area.html
July 21st, 2008 at 12:30 pm