Insentif untuk Kerja dari Rumah
Pemerintah berencana untuk menaikkan pajak kendaraan. Apakah itu akan berdampak untuk mengurangi volume kendaraan dan berefek pada kurangnya kemacetan, setelah kenaikan harga bensin tidak banyak memberi pengaruh padatnya jalanan? Kita lihat saja nanti.
Bicara tentang mengurangi kemacetan, seharusnya ada usaha push and pull. Sementara pajak kendaraan dinaikkan, sekalian naikkan tarif yang lain: tol, parkir, masuk jalan protokol dan sebagainya. Kemudian perluas wilayah 3-in-1, berlakukan pembatasan dengan plat nomor kendaraan tertentu di hari tertentu pula. Pokoknya segala cara agar orang dibuat malas bawa kendaraan.
Tetapi di sisi lain, kualitas transportasi publik juga harus ditingkatkan, menjadi lebih aman dan nyaman. Pemasukan yang didapatkan dari pajak kendaraan, tol, parkir, dan sebagainya itu bisa digunakan untuk memperbaiki kualitas transportasi publik ini. Dan kalau jalanan lengang, mustinya jadi tepat waktu. Dan karena jalanan lengang pula serta bertambahnya calon penumpang, para pengendara kendaraan umum tidak perlu ugal-ugalan untuk menyalip kendaraan lain dan berebut penumpang. Hasilnya adalah jalan raya yang lebih aman bagi seluruh penggunanya.
Dan ide menarik yang lain adalah pemerintah memberi insentif bagi perusahaan yang mendorong karyawannya untuk bekerja dari rumah. Banyak keuntungan yang bisa didapatkan pemerintah dari hal ini. Yang paling jelas adalah penghematan penggunaan daya listrik dan penurunan emisi karbon kendaraan bermotor. Penghematan daya listrik tentunya sesuai dengan situasi saat ini.
Selanjutnya perusahaan mengembalikan insentif tersebut bagi karyawannya yang bekerja dari rumah. Jika karyawannya bekerja dari rumah, si karyawan bisa bekerja dengan lingkungan yang baginya sudah nyaman dan kondusif untuk bisa melakukan pekerjaannya secara lebih efektif. Ini juga berguna untuk mendidik perusahaan-perusahaan supaya lebih berorientasi kepada hasil pekerjaan, bukan proses pekerjaannya.
Silakan post komentar. Saya terbuka untuk saran dan kritik.
By Irfan Setiaputra on September 10th, 2008 |

There are 6 comments for “Insentif untuk Kerja dari Rumah”. Add yours
Thomas Arie
Menarik pak idenya. Tapi, bagaimana kalau dari sisi perusahaan? Apakah sudah mulai menjadi trend dimana perusahaan “bisa menerima” kalau karyawan bekerja dirumah? Dan, apakah yang harus dilakukan oleh perusahaan jika mereka ingin mengadaptasi ide semacam ini?
September 10th, 2008 at 7:59 pm
Amir Karimuddin
Pak Irfan, saya setuju dengan ide tersebut.
Tentunya masalah utama di Indonesia lebih ke arah transportasinya. Menaikkan pajak dll itu gampang, mengembalikannya ke rakyat dengan alat transportasi yang decent, hmm.. itu nanti dulu.
Satu lagi, tentang bekerja di rumah.. biasanya saya melihat ini lebih ke arah konteks “atasan” yang tidak percaya dengan anak buahnya. Maunya mengontrol terus.
Kalo bekerja di pabrik, dengan buruh kasar, mungkin bisa dengan teknik “menyatroni” setiap saat seperti itu, tapi untuk kita yang “katanya profesional”, seharusnya result oriented adalah salah satu opsi yang menarik sebagai trigger penggalakan kerja “di mana saja”.
Tentunya koneksi VPN-nya harus bagus dong :D
September 11th, 2008 at 5:54 am
Alex
Tergantung jenis pekerjaannya dan bentuk perusahaannya pak. Mungkin bisa diterapkan di Cisco (sudah kali ya), rep office atau perusahaan sejenis yang jelas bukan pabrik :) Lalu lihat saja apa performa perusahaan bisa nanjak atau malah merosot. Ini sebagai indikator untuk melihat apa ternyata etika kerja ini cocok diterapkan.
September 18th, 2008 at 11:29 pm
meiko
Boss Aya, pada dasarnya saya setuju dengan policy Push & Pull untuk mengurangi kemacetan dan menambah produktifitas -I had done that :)-. Dan kerja di rumah membuat lebih effisien. Namun, saya tidak setuju dengan pernyataan bahwa bekerja di rumah itu mngehemat listrik. Karena penghemetan listrik hanya akan dirasakan oleh perusahaan, namun tidak secara makro.
Secara makro menurut saya justru kebutuhkan listrik akan meningkat dengan tren bekerja di rumah. karena semakin banyaknya penggunaan teknologi, setiap penambahan penggunaan teknologi, sebetulnya adalah permintaan tambahan untuk penggunaan listrik. disamping penggunaan notebook, tentunya penggunaan telepon juga bertambah, belum lagi penggunaan broadband untuk bekerja di rumah. enambahan equipment ini bukan hanya di sisi CPE, namun juga di sis network dari operator telekomunikasi.Sehingga secara makro, tentunya semuanya membutuhkan energy, salah satunya listrik.
September 20th, 2008 at 4:53 am
Johan
Hello Pak Irfan,
Saya salah satu fans anda. Saya beberapa kali menghadiri acara dimana Anda sebagai salah satu inpiratornya. :).
Menurut saya transportasi di Jakarta memang sudah sedemikian sulit untuk dikendalikan. Barangkali sistem transportasi yang memang harus diperbaiki dan didukung oleh teknologi sepenuhnya. Atau barangkali setiap kendaraan di yang memasuki wilayah Jakarta mendapatkan suatu identitas atau IP address untuk mengidentifikasi jumlah kendaraan yang memasuki jalan-jalan wilayah Jakarta, sehingga jikalau kapasitas jalan-jalan tersebut telah penuh, kendaraan-kendaraan lain yang akan memasuki jalan di Jakarta di tahan sementara dulu atau diberi jalan alternatif alias route-nya di alihkan. ^_^.. Barangkali ini ide yang tak masuk akal. Mohon maaf Pak. Terima kasih.
September 22nd, 2008 at 10:18 pm
adit
saya jd teringat quote dari majalah bussinessweek bulan lalu yg sama2 perlu kita renungkan
“Jika anda dapat mengkomunikasikan apa saja, kapan saja dan di mana saja, lalu mengapa anda harus punya kantor ?, kerja bukan tempat yg anda tuju, tapi apa yg anda lakukan”
sy pribadi sejak April tahun ini sudah bekerja di rumah, selain waktunya fleksibel, kerja pun jd tidak terlalu lelah karena tidak harus “berantem” dengan kemacetan & polusi
September 29th, 2008 at 7:43 am