Kamera dalam Kelas Bukanlah Interaksi
Dunia pendidikan mendapat tantangan yang berat dalam menghadapi arus deras inovasi teknologi informasi. Tantangan pertama adalah memaksimalkan pemanfaatan TI untuk memperkaya pengalaman edukasi. Dan tantangan kedua adalah mempertahankan pengalaman edukasi yang menarik di dalam kelas.
Saya cukup terkejut mendengar dari teman saya bahwa ada mahasiswa yang memasang kamera video dan meninggalkan laptop di kelas untuk merekam perkuliahan, sedangkan mahasiswanya sendiri tidak hadir di dalam kelas. Ini artinya pengalaman di kelas dinilai tidak asyik lagi oleh mahasiswa jaman sekarang.
Tapi ini kasus tertentu saja yang tidak bisa digeneralisasi. Tapi ini juga memperlihatkan adanya gejala tersebut.
Dalam kondisi ini, yang dulunya disebut pengajar harus didefinisikan ulang menjadi fasilitator. Para pengajar atau fasilitator sekarang ini dituntut untuk kreatif dalam menyajikan materinya di kelas. Kalau jaman dulu cukup dengan OHP, sekarang harus memakai aplikasi presentasi yang atraktif.
Selain itu para fasilitator tidak bisa hanya memaparkan apa yang sumbernya dari buku saja, karena siswa bisa mendapatkan bahan tersebut dan materi lainnya di Internet. Ketik saja keywords di Google atau Wikipedia, maka informasi yang dicari akan muncul di layar. Fasilitator harus mampu untuk memfasilitasi rasa haus siswanya akan pengetahuan yang asalnya bisa didapat oleh mereka dari buku sendiri ataupun dari sumber informasi lain. Siswa akan mendapat nilai tambah, jika sosok yang berdiriĀ di depan kelas dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman yang para siswa baru dalam tahap mengkhayalkannya.
Kembali ke arus teknologi informasi, pengajar didorong untuk memperbanyak porsi interaksi dua arah dengan muridnya, suatu pengalaman yang tidak bisa didapat hanya dengan cara merekamnya saja. Di luar kelas juga kalau memungkinkan para pengajar membuka saluran informasi, sehingga murid masih bisa berinteraksi. Membuka kelas virtual di Facebook bisa juga menjadi salah satu jalan agar rasa ingin tahu siswa dapat difasilitasi.
Atau gabungkan kelas yang berada di lokasi lain, dengan menggunakan video, untuk menambahkan semarak diskusi. LagianĀ kesempatan bertemu murid lain dari sekolah lain biasanya suatu kesempatan yang tidak akan dilewatkan.
By Irfan Setiaputra on October 22nd, 2008 |

There is one comment for “Kamera dalam Kelas Bukanlah Interaksi”. Add yours
BARRY
Trend untuk membawa laptop ke kelas saat mendengarkan lecture sepertinya sering disalah gunakan oleh para siswa yang memakai laptop sebagai pintu untuk “keluar” dari kelas yang seharusnya justru mendapatkan fokus perhatian saat berada di kelas. Banyak siswa yang sibuk chatting, menonton live sport, maupun bermain game bersama teman-temannya.
Memang betul jika tantangan bagi pengajar menjadi lebih besar untuk membawa perhatian mereka ke dalam situasi diskusi. Di banyak business school sekarang ini, trend tersebut dibalas dengan peraturan baru yang mematikan wireless connection saat professor sedang memimpin diskusi.
Saya pribadi merasa kalau laptop hanya perlu dipakai secara minimal saat berada di kelas mengingat waktu yang ada sangat terbatas yang sebaiknya dipakai dengan semaksimal mungkin. Selain harga kelas yang sudah mahal, kadangkala diskusi antar sesama siswa memiliki nilai tambah yang tidak dapat didapat hanya dengan membaca buku.
October 29th, 2008 at 11:35 am