Irfan Setiaputra

personal blog

Irfan Setiaputra header image 2

Susahnya Panggil Nama

May 4th, 2009 · 11 Comments

Sebulan belakangan setelah bergabung dengan PT Inti, saya kembali dipenuhi kesibukan. apalagi setelah lebih dari satu bulan tidak menjalani kegiatan perkantoran, badan dan otak perlu sedikit adaptasi untuk meluweskan sendi-sendi.

Adaptasi yang lain tentunya adalah budaya kerja. Setiap organisasi tentunya punya budaya kerja yang berbeda-beda. Sebulan selama masa adaptasi ini saya banyak menemukan pegalaman baru.

Saat saya memasuki perusahaan baru, selalu ada permintaan untuk teman-teman. Saya minta dipanggil nama saja, jangan pakai embel-embel Pak di depannya. Permintaan ini bukan semata-mata agar kelihatan lebih muda dari usia, tetapi lebih membuka diri dalam melakukan komunikasi.

Rupanya kenyataan tidak semudah dibayangkan kalau permintaan ini diterapkan juga di PT Inti. Sampai posting ini ditulis, masih ada saja yang panggil saya Pak. Budaya segan masih terlalu kental di perusahaan ini untuk dicairkan.

Karyawan yang sudah cukup lama bergabung dengan PT Inti, sudah terlalu terbiasa untuk memanggil teman sejawatnya dengan sapaan Pak. Dan ini sudah berlangsung bertahun-tahun.

Dengan jumlah karyawan yang banyak, macam-macam reaksi mereka menangapi permintaan saya. Ada yang malu-malu memanggil nama saja (tapi saya harap lama-lama juga nanti biasa). Ada yang cuma panggil Pak saja (mungkin lupa dengan nama saya). Ada yang panggil Pak Irfan (agar aman, Pak tetap ada, nama juga dipanggil). Dan paling parah ada yang memangil Pak Dirut!

Capek deh. Apa sih susahnya panggil nama saja? Seperti kita memanggil teman-teman kita.

Panggil Aya, dan saya pasti menengok.

Tags: Uncategorized

11 responses so far ↓

  • 1 edo // May 4, 2009 at 9:56 pm

    malam uda aya :)

  • 2 Widoyo // May 5, 2009 at 10:04 pm

    Ya, sungguh tidak biasa kalau hanya manggil nama di INTI. Ehm menurut aturan dari pembuat Logo INTI JANGAN disebut Pt. Inti, namun sebut saja INTI.

    Kenalan pak Irfan (tuh saya, yang juga DIRUT dari perusahaan kelas NANO (cucunya Micro) saya, saja nyebut pak), saya ‘lulusan’ INTI yang ikut pensiun dini pada September 2004. Kerja di INTI 13,5 tahun, sebagian besar waktu di INTI berada di Divisi LitBang (kesuLitan dan kebimBangan).

    Cukup banyak tantangan di INTI, namun ada langkah kecil yang murah namun ENERGInya LUAR BIASA. Menurut saya adalah:
    1.Sholat Jamaah di Masjid An Nuur,
    2.Makan siang bersama pejabat dan karyawan di satu ruang tanpa sekat tinggi, saya ingat tahun 91-92 saya masih menikmati makan siang bersama.
    3.Senam pagi Jum’at dan setelah itu saling mengunjungi rekan kerja di unit lain
    4. Menulis hal-hal motivatif di Jaring

    Murah dan tidak ribet kan? Mungkin cara ini juga akan mengurangi ‘Pak’

    Widoyo

  • 3 Lola Doop // May 6, 2009 at 10:36 am

    Selamat ya Pak Irfan (P’Aya) atas new position di PT.INTI

  • 4 Euis Erni Suryani // May 7, 2009 at 2:23 pm

    mungkin di inti masih lekat budaya warisan jaman dahulu kala, bahwa bawahan itu harus menghormati atasannya apalagi aya kan Direktur.
    pada tahun 1980 dikantin makannya terpisah untuk pejabat makannya prasmanan mejanya juga pakai taplak meja dan bunga, kalau pelaksana pakai baki seperti di tempat tahanan.
    apabila pejabat masuk ke ruangan-ruangan karyawan itu segan.
    Untuk memilih bawahannya itu ada yang suka satu suku, ada juga bawahannya yang harus nurut alias ABS, tidak mau menerima anak buah yang tidak baik, bukan mendahulukan skill jadi walhasil di inti ini belum bisa bekerja secara profesional.
    salam
    Euis

  • 5 bintoro // May 11, 2009 at 9:57 am

    memanggil Pak terkait dengan nilai rasa bagi masing-masing orang, jadi kita berharap hal seperti ini tidak membuat macet komunikasi dan biarkan saja berjalan secara alami. Meskipun demikian, setidaknya usulan untuk panggil ‘Aya’..hehehe..kagok jg nih_ sudah merupakan tawaran yang positif dan bersahabat.

  • 6 gobzip // May 13, 2009 at 5:16 pm

    Gile loeee … (berani yach guwe) …

    Barangkali Pak bos sih ngerasa akrab ajach
    ketika si OB (Opis Boi) yg masih baru masuk
    manggil nama tapi itu OB bisa
    disemprot abis ama supervisor dia.

    Sapa yg nanggung … coba …

    hmm … kadang sebutan Pak bukan
    maksud ke jabatan tapi karna sudah
    jadi Bapak. Biarpun orang lebih muda,
    tapi karena punya anak sudah sepantasnya
    dipanggil Bapak. Bangga loh sudah
    punya anak. he he he …

  • 7 Asep Budi // May 14, 2009 at 10:52 am

    Sungguh suatu kebersahajaan …. kalau kami ngak pantas panggil aya Bapak saja yah… “”Selamat untuk posisi dan tantangan baru” kami salah satu rekanan INTI untuk jasa pengurusan transportasi. selama rekanan dengan INTI saya menemukan iklim kerja dan budaya yang bersahabat dan kekeluargaan . hemat saya hal ini sangat baik jika dikolaborasikan dengan iklim kerja dan profesionalitas yang bapak bawa . mudah mudahan terobosan baru ini membawa lagi kecemerlangan INTI di masa yang akan datang . sekali lagi” Selamat dan sukses selau”

  • 8 borsalino // May 24, 2009 at 1:21 pm

    sebetulnya itu pengaruh kultur. sejak masih kecil, mereka sudah dibiasakan memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan kakak, mbak, mas, bapak, kakek, eyang, nyai, dan sebagainya. dan itu sudah dilakukan puluhan tahun. tentu hal yang tidak mudah untuk mengubah kebiasaan itu.
    menurut pandangan saya, tak menjadi masalah mereka memanggil anda dengan sebutan pak, kak, eyang, dik, atau apalah … asal bukan ibu. buat yg sebaya anda, bisa jadi hal itu tidak sesulit bila hal yg sama dilakukan oleh orang yang lebih muda dari anda.

    dan mulai detik ini, saya kan coba memanggil anda dengan sebutan IRFAN. semoga satpam di sono gak langsung melotot bila suatu saat saya meneriakkan kata itu di kantor anda.

  • 9 Dendy // Jun 3, 2009 at 8:11 pm

    welcome back Pak Irfan :p .. dah dirut toh skrg, mantaps

    heheh susah mas kalo di indo mah… budaya timur masih melekat, apalagi di BUMN manggil yg lebih tinggi jabatannya, wajib pake pak…

    kalo di luar.. beda, sudah biasa manggil atasan. CEO sekalipun pake nama depan, dan bukannya Mr atau Herr

  • 10 Syamsul // Jun 9, 2009 at 4:17 pm

    Aya. (Ngak pakai Bapak)

    Memang dalam budaya kita untuk orang yang lebih tua atau di-tua-kan sudah biasa dipanggil Bapak sekalipun itu orangnya lebih muda dari kita dan dalam “tata-krama” PNS dan perusahaan lain, atasan biasa dipanggil Bapak. Itu merupakan satu penghargaan.

    Untuk jaman sekarang ini yang lebih terbuka, memang sapaan nama lebih mendekatkan diri kepada lingkungan dan ini perlu waktu untuk organisasi yang sudah turun-temurun sudah terbiasa menggunakan panggilan Bapak.

    Selamat, semoga sukses.

  • 11 Ni Putu Eka Wijayanti // Jun 23, 2009 at 10:53 am

    Salam Kenal Pak Aya… hehehehe (Nyebut pak lagi khan… )

    kalo saya ketemu pak Aya… saya akan usahakan panggil Aya saja, walaupun kayaknya bakal susah :)

    Selamat ya.. atas jabatan Barunya… semoga Amanah. Amin.

Leave a Comment