Irfan Setiaputra

toward human networking

Recent Journal Entries

Menatap Cermin Dua Arah

Saya kemarin pergi ke ITB untuk acara Cisco Systems Career Day, dalam rangka program rekrutmen Cisco. Saat berbicara di depan para bakal calon pegawai Cisco ini, saya seperti berhadapan dengan sebuah cermin dua arah. Di satu sisi saya menatap masa lalu saya saat masih menjadi mahasiswa bertahun-tahun yang lalu (kebetulan saya adalah lulusan ITB), dan di sisi lain saya menatap masa depan Cisco, di tangan para bakal calon pegawai Cisco ini. Upaya Cisco dalam perekrutan ini merupakan salah satu wujud dari upaya Cisco dalam memupuk tenaga-tenaga kerja lokal dengan kualifikasi internasional. Dalam program ini, empat orang yang terpilih akan menjalani pelatihan selama sembilan bulan di kantor Cisco di Raleigh, North Carolina, Amerika Serikat.

Para peserta terlihat cukup antusias dalam mengikuti presentasi saya. Sebagian bahkan rela datang dari luar Bandung. Dan kemudian dalam sesi tanya jawab, terjadi interaksi yang cukup menarik, dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya cukup cerdas. Anehnya, tidak ada pertanyaan mengenai gaji pokok. Mungkin mereka merasa yakin Cisco bisa menjamin kesejahteraan mereka.

Berbicara mengenai keyakinan, saya yakin masa depan Cisco Systems Indonesia terletak di tangan orang-orang Indonesia. Meskipun Cisco adalah sebuah perusahaan multinasional, peran sumber daya lokal memegang porsi yang tidak kalah penting. Sebuah majalah bisnis Indonesia yang cukup terkemuka di edisi terbarunya membahas semakin banyaknya CEO lokal dipercaya memimpin perusahaan multinasional. Menurut majalah ini, “Mereka dianggap kian bisa menjadi penghubung antara negara setempat dan negara asal perusahaan.”

Kembali ke program rekrutmen Cisco, bagi anda yang berminat, silakan mendaftar di www.inovasia.co.id. Saya menunggu calon-calon pemimpin Cisco Systems Indonesia berikutnya.

web-inovasia.jpg

By Irfan Setiaputra on February 12th, 2008 | 33 comments »

Cisco Telco Summit 2008: Di Waktu Yang Tepat

 

telcosummit.jpg

Cisco Systems Indonesia kemarin mengadakan acara Cisco Telco Summit 2008, yang memperlihatkan solusi-solusi dan inovasi-inovasi jaringan IP Next-Generation Network dari Cisco dan partner-partnernya. Acara ini merupakan salah satu upaya Cisco untuk menegaskan komitmennya terhadap perkembangan jaringan telekomunikasi Indonesia, yang sedang dalam transisi konvergensi dengan jaringan yang berbasis IP.

Respon yang didapat cukup baik, dengan kapasitas ruangan yang penuh. Ini bisa menjadi indikator bahwa ada kepedulian yang cukup besar dari masyarakat dan industri di Indonesia untuk kemajuan telekomunikasi negara ini. Timing acaranya pun cukup tepat, mengingat banjir kembali mengancam Jakarta, dan peranan telekomunikasi menjadi sangat penting.

Yang menarik adalah diskusi yang terjadi di dalam konperensi pers Cisco Telco Summit 2008 ini. Para teman-teman wartawan cukup kritis dalam menyikapi inisiatif Cisco untuk industri telekomunikasi ini, dan kami mendapat beberapa masukan yang bisa dijadikan pertimbangan. Diskusi berkembang dari masalah perang tarif operator, layanan video, hingga Wimax.

Perang tarif, yang ditakutkan akan menjadi bumerang bagi para operator, justru bisa menimbulkan keuntungan bagi pengguna, industri, dan juga para operator sendiri. Tidak ada yang dirugikan sama sekali. Para operator akhirnya bisa memanfaatkan kapasitas jaringannya secara lebih maksimal, para pengguna bisa menikmati komunikasi dengan biaya rendah, dan para pelaku industri akhirnya bisa memperlihatkan kalau solusi-solusi mereka memang “mumpuni”. Ujung-ujungnya, industri telekomunikasi Indonesia akan semakin berkembang. Karena dengan IP, layanan yang bisa ditawarkan dan dinikmati bisa menjadi lebih dari sekedar suara dan SMS.

By Irfan Setiaputra on February 6th, 2008 | 5 comments »

Kelas Tanpa Batas

Satu artikel di www.detikinet.com menggelitik saya. Benarkah Internet membuat otak mahasiswa tumpul dan menghasilkan tugas-tugas kuliah yang tidak bermutu?

Saya justru lebih melihat Internet sebagai sarana bagi para murid dan juga tenaga pengajar untuk mendapatkan materi pendidikan yang kualitasnya setara. Artinya selama mendapatkan koneksi Internet, murid dan tenaga pengajar bisa mendapatkan konten pendidikan baik berupa tulisan, suara ataupun video yang sama.

Tenaga pengajarpun dapat berbagi keahliannya. Tanpa dibatasi lokasi dan tanpa melakukan perjalanan, pengajar dapat “berdiri di depan kelas” di banyak lokasi sekaligus melalui tayangan video.

Hasil karya-karya para murid juga dapat diakses oleh murid lain di lain tempat. Sehingga proses berbagi referensi berjalan lebih cepat dan luas.

Yang lebih menyenangkan, proses belajar mengajar tidak berhenti di kelas saja. Di luar dinding kelas, konten pendidikan masih dapat diakses, kemudian didiskusikan dengan murid dan pengajar secara online. Karena itu Internet memungkinkan Kelas Tanpa Batas.

Dengan kemampuannya ,Internet memberikan keuntungan lebih banyak di area pendidikan. Internet dapat mendorong siswa dan guru untuk mengubah pola belajar yang sebelumnya lebih terkonsentrasi di dalam kelas serta memberikan jalan mendapatkan informasi tambahan selain dari buku saja. Pada akhirnya setiap individu memiliki kebebasan untuk mengembangkan pengetahuannya tanpa batasan fisik.

By Irfan Setiaputra on January 17th, 2008 | 14 comments »

Selamat Tahun Baru 2008

Di awal tahun baru ini, kita disambut dengan harga minyak yang menyentuh $100 per barel. Tentu harga yang meroket naik ini akan memberikan banyak efek, termasuk yang sudah pasti kenaikan harga bensin dan berlanjut menimbulkan efek domino. Yang paling akan terkena dampaknya adalah biaya transportasi.

Walau begitu, kita harus menyambut 2008 dengan rasa optimis. Banyak kiat yang bisa kita lakukan.

Komunitas Bike to Work adalah contoh yang layak diangkat. Berangkat bekerja dengan mengendara sepeda sehingga sekalian olah raga, mengurangi polusi, dan mengurangi biaya bensin.

Lainnya adalah gaya hidup bekerja di mana saja dan kapan saja. Tetap produktif menggunakan fasilitas yang ada, tanpa banyak melakukan perjalanan yang tidak perlu.

Siap menghadapi 2008 yang penuh tantangan?

By Irfan Setiaputra on January 3rd, 2008 | 5 comments »

Olahraga: Rekreasi dan Bisnis

Sebelumnya Indonesia pernah merajai ajang SEA Games sehingga disegani oleh negara-negara tetangga. Di SEA Games tahun ini di Thailand, walaupun ajangnya belum selesai, tetapi kontingen Indonesia menunjukkan tanda-tanda memprihatinkan. Sampai pagi ini, Indonesia terpuruk di papan bawah dengan “hanya” 13 emas, 21 perak, dan 23 perunggu, menduduki peringkat ke-enam, di atas Myanmar, Laos, Kamboja dan Brunei Darussalam. Sangat tidak membanggakan.

Menurut para pemerhati olahraga, paceklik emas ini disebabkan oleh regenerasi atlet yang lambat. Atlet-atlet yang sudah bertanding sejak tiga atau empat SEA Games lalu sekarang harus tetap berlaga sebagai atlet, bukannya sebagai pelatih.

Lambatnya regenerasi ini, masih menurut para pengamat, dikarenakan kompetisi-kompetisi tidak berjalan dan tidak seramai dulu. Saya setuju dengan analisa para pengamat ini. Lihat saja gelanggang olahraga Bung Karno Senayan yang seharusnya semarak dan penuh dengan pertandingan olahraga, kini secara kasat mata agendanya lebih banyak tidak olahraga daripada olahraganya.

Ada banyak faktor yang berujung pada kondisi saat ini, tapi di posting ini saya akan lebih fokus kepada arena olahraga. Seiring dengan perkembangan, arena olahraga juga harus turut berubah.

Arena olahraga bukan lagi hanya menjadi tempat atlet berlaga dan penonton memberikan dukungan bagi atlet kesayangannya. Sekarang ini, arena olahraga harus memiliki kemampuan rekreasi dan bisnis.

Rekreasi dalam arti pengunjung arena tidak hanya untuk menonton pertandingan saja, tapi mendapatkan pengalaman menonton olahraga yang lebih lengkap. Selain mendapatkan kemudahan mendapatkan makanan dan minuman yang mak nyus serta merchandise, arena juga dilengkapi dengan tayangan dan statistik pertandingan di monitor (membuat saya bertanya-tanya kapan display di stadion Bung Karno akan diganti?) bahkan sampai ke perangkat genggam yang dibawa penonton. Di lingkungan arena juga bisa dimasukkan layar display yang interaktif, termasuk untuk pengiklan, memberikan petunjuk arah dan lainnya.

Keamanan juga terjaga karena setiap tiket dilengkapi dengan RFID. Berguna untuk mendeteksi pergerakan penonton dan membagi-bagi wilayah keramaian.

Media juga mendapat perhatian penting di arena ini. Koneksi WiFi bisa didapat di semua sisi arena, sampai ke pinggir lapangan. Para jurufoto yang harus mengupdate setiap saat foto-fotonya ke situs berita, tanpa beranjak dari sisi lapangan bisa langsung mengirimkannya ke redaksi. Para wartawan tulis juga tidak perlu beranjak dari tempat duduknya untuk mengirimkan laporan pertandingan.

Dengan menyediakan pengalaman menonton yang lengkap, maka diharapkan kompetisi olahraga menjadi semakin bergairah. Penonton yang terus datang dapat memberikan pemasukan bagi pengelola arena, pengelola pertandingan dan juga klub. Pemasukan tersebut selain untuk pemeliharaan arena juga digunakan untuk membina atlet-atlet.

Investasi yang ditanamkan di arena olahraga adalah pilihan untuk menggerakkan unsur-unsur pendukung olahraga. Termasuk kelayakan Indonesia menjadi tuan rumah ajang internasional.

By Irfan Setiaputra on December 10th, 2007 | 6 comments »

TI Berikan Jalan

Tanpa hujan pun, Jakarta bisa kebanjiran. Kemarin, 26 November, lalu lintas di jalan tol Prof Sedyatmo ruas Pluit - Bandara Soekarno Hatta Cengkareng terputus karena terendam genangan air laut pasang. Akibatnya penumpang pesawat yang hendak pulang tidak bisa melaju ke arah pusat kota, dan calon penumpang pesawat tertunda keberangkatannya bahkan batal karena terjebak kemacetan.

Yang terjadi kemarin adalah kegagalan transportasi. Sedangkan kegiatan harus tetap berjalan. Dan kalau kejadian seperti ini yang sering kali berulang menghalangi warganya untuk beraktivitas, apa kemudian kata dunia?  Apakah kita ingin dikenal sebagai bangsa yang tidak belajar dari pengalaman?

Melakukan aktivitas, termasuk bekerja, kini tidak lagi tergantung kepada lokasi atau yang disebut workplace. Mobilitas telah merubah paradigma akan bagaimana dan di mana orang bekerja. Daripada berpikir menyediakan komputer, telepon atau bahkan PDA untuk bekerja, lebih baik berpikir bagaimana memiliki workspace yang mendukung unified communications antara data, suara dan video.

Workspace ini otomatis akan berubah disesuaikan dengan keberadaan kita. Desktop bisa digunakan di siang hari di lokasi tetap, kemudian saat melakukan perjalanan maka perangkat genggam menggantikannya. Pada intinya, kolaborasi seperti memungkinkan produktivitas terus berjalan.  Dengan demikian, ada perubahan mengenai konsep bekerja, yang tadinya hanya terbatas di tempat kerja dan komputer, sekarang konsep bekerja dapat diterapkan di mana saja. Dengan perubahan paradigma seperti ini, kualitas jaringan serta akses nya akan berperan penting untuk kelancaran komunikasi.

Sementara kepastian transportasi menurun, teknologi informasi memberikan jalan.

By Irfan Setiaputra on November 28th, 2007 | 8 comments »

Daftar Perjalanan Yang Tidak Perlu

Saking macetnya Jakarta, helikopterpun dijadikan alternatif transportasi yang bisa dengan cepat mengantarkan dari satu helipad ke helipad yang lainnya. Dari helipad ke lokasi pertemuan? Ya tetap macet juga.

Alternatif lain bagi warga Jakarta yang tidak punya akses ke helikopter tapi punya mobil adalah mempunyai supir. Maksudnya agar tidak kelelahan dan stress berlebihan menghadapi macet.

Seperti yang pernah saya tulis dan sering saya diskusikan, baik di forum formal maupun informal, kemacetan ini harus dilihat esensinya. Yang tidak lagi perlu ditambahkan di tengah kemacetan ini adalah perjalanan-perjalanan YANG TIDAK PERLU.

Berikut ini adalah daftar versi saya mengenai perjalanan yang tidak perlu, dan bisa digantikan lewat pemanfaatan Internet:

  • Datang ke Sudirman-Thamrin (atau pusat kota) untuk ke kantor, tetapi di kantor hanya lebih banyak berhadapan dengan komputer daripada berinteraksi langsung dengan karyawan lainnya.
  • Pertemuan-pertemuan yang bisa diselesaikan lewat diskusi di instant messenger, telepon atau konferensi video.
  • Konsultasi hukum, kesehatan, pendidikan dan lain-lain.
  • Sidang pelanggaran ringan lalu-lintas yang dendanya bisa dibayarkan melalui transaksi online.
  • Demonstrasi masal, digantikan petisi online.
  • Datang ke ATM atau bank untuk melakukan transaksi non-tunai.
  • Pembayaran tunai untuk listrik, telekomunikasi dan air.
  • Pelaporan dan pembayaran pajak.
  • Mengambil rapor anak, karena sekolah tidak dirancang untuk punya lapangan parkir yang luas dan kedua, kalau gurunya ditanya jawabannya melihat dari catatan di rapor juga. Kalau sekolah bisa punya portal yang memberikan kesempatan bagi orang tua dan murid untuk berkomunikasi interaktif akan lebih menarik.
  • Memperpanjang KTP, SIM, STNK dan paspor.
  • Mengurusi masalah perijinan-perijinan yang sebenarnya sudah bisa dijalankan lewat Internet
  • Penandatanganan persetujuan secara fisik, padahal persetujuan dalam softcopy sudah bisa menjadi bentuk yang sah
  • Mengantri membeli tiket transportasi publik yang bisa didapat lewat situs web
  • Berbelanja rutin yang barang-barang dan ukurannya selalu sama.
  • Datang ke game station agar dapat bermain secara online.

Kalau teman-teman punya daftar yang lain, silakan tambahkan.

By Irfan Setiaputra on November 13th, 2007 | 24 comments »

Silakan Cari Rumah Saya

Bisa jadi ide pertama saat membuat portal dan aplikasi di Internet adalah hanya untuk menyalurkan kreativitas dan bersenang-senang, belum ada pikiran bahwa nantinya portal atau aplikasi tersebut akan menjadi bisnis besar.

Seperti belum lama ini saya menikmati www.wikimapia.org dari rekomendasi teman sekantor. Engine yang dipakai di situs ini adalah dari Google Earth, yang membedakannya adalah kemampuan kolaborasi. Di situs ini, orang-orang dapat menandai lokasi dan pengunjung situs dapat melihat tanda-tanda yang ditinggalkan pengunjung lainnya.

Teman saya menceritakan situs ini sangat berguna saat berhalal bihalal di lebaran lalu. Untuk lokasi lebih pastinya, daripada hanya meninggalkan alamat saja, tanda-tanda lokasi yang ditinggalkan di wikimapia dijadikan sebagai patokan arah perjalanan.

Siapa bilang kolaborasi tidak berlaku untuk bersenang-senang? Silakan cari rumah saya di wikimapia.

By Irfan Setiaputra on November 2nd, 2007 | 5 comments »

Macet Lagi…

Pekan ini lalu-lintas Jakarta kembali seperti sebelum Lebaran yang ditinggalkan pergi oleh banyak penggunanya. Singkat saja, macet. Kerugian yang terjadi karena kemacetan ini bisa termasuk hilangnya waktu produktif, kurangnya waktu berkualitas, kelelahan fisik dan psikis, serta pemborosan bahan bakar.

Gubernur Jakarta yang baru menghadapi salah satu tantangan terbesar dalam karirnya, bagaimana mengatasi kemacetan ini. Sejauh ini, proyek yang dijalankan lebih banyak kepada memfasilitasi transportasi.

Tidak ada salahnya dengan memberikan fasilitas yang lebih baik untuk transportasi, tetapi akan lebih baik jika ada juga program yang bertujuan untuk mengurangi jumlah orang yang bepergian. Program yang dimaksud seperti, pajak penggunaan jalan dan biaya parkir ditingkatkan.

Selain itu disertai juga program yang memberikan kemampuan kepada warga untuk tetap beraktivitas, termasuk bekerja, berbelanja, membayar tagihan dan semacamnya, tanpa harus berjalan jauh ke tempat tujuan. Untuk ini perlu internet berpita lebar, di rumah-rumah dan di tengah-tengah komunitas.

Urusan lalu-lintas hanya bisa diselesaikan bila bisa membereskan banyak sisi.

By Irfan Setiaputra on October 22nd, 2007 | 14 comments »

Bekerja Dalam Jarak “Dekat”

cisco_express_trailer.jpg

Work is not a place, it’s an activity. Kalimat ini terpampang di badan trailer Cisco Express. Ini yang sebenarnya terjadi di Cisco.

Sebagai perusahaan yang mengandalkan Internet untuk menjalin kolaborasi antar karyawan, pelanggan, partner dan suplier, maka karyawan Cisco tidak terjebak untuk harus bekerja di suatu lokasi tertentu menggunakan perangkat tertentu.

Saya sendiri banyak menggunakan instant messaging (sementara banyak perusahaan melarang penggunaan aplikasi ini di kantor karena dinilai mengganggu produktivitas) untuk berkomunikasi dengan banyak orang. Instant messaging begitu menyenangkan karena terlihat siapa saja yang sedang online, serta respon pun bisa cepat. Read the rest of this entry »

By Irfan Setiaputra on October 5th, 2007 | 23 comments »

Legal Disclaimer
Some of the individuals posting to this site, including the moderators, work for Cisco Systems. Opinions expressed here and in any corresponding comments are the personal opinions of the original authors, not of Cisco. The content is provided for informational purposes only and is not meant to be an endorsement or representation by Cisco or any other party. This site is available to the public. No information you consider confidential should be posted to this site. By posting you agree to be solely responsible for the content of all information you contribute, link to, or otherwise upload to the Website and release Cisco from any liability related to your use of the Website. You also grant to Cisco a worldwide, perpetual, irrevocable, royalty-free and fully-paid, transferable (including rights to sublicense) right to exercise all copyright, publicity, and moral rights with respect to any original content you provide. The comments are moderated. Comments will appear as soon as they are approved by the moderator.

© 1992-2007 Cisco Systems, Inc. All rights reserved.