Sebelumnya Indonesia pernah merajai ajang SEA Games sehingga disegani oleh negara-negara tetangga. Di SEA Games tahun ini di Thailand, walaupun ajangnya belum selesai, tetapi kontingen Indonesia menunjukkan tanda-tanda memprihatinkan. Sampai pagi ini, Indonesia terpuruk di papan bawah dengan “hanya” 13 emas, 21 perak, dan 23 perunggu, menduduki peringkat ke-enam, di atas Myanmar, Laos, Kamboja dan Brunei Darussalam. Sangat tidak membanggakan.
Menurut para pemerhati olahraga, paceklik emas ini disebabkan oleh regenerasi atlet yang lambat. Atlet-atlet yang sudah bertanding sejak tiga atau empat SEA Games lalu sekarang harus tetap berlaga sebagai atlet, bukannya sebagai pelatih.
Lambatnya regenerasi ini, masih menurut para pengamat, dikarenakan kompetisi-kompetisi tidak berjalan dan tidak seramai dulu. Saya setuju dengan analisa para pengamat ini. Lihat saja gelanggang olahraga Bung Karno Senayan yang seharusnya semarak dan penuh dengan pertandingan olahraga, kini secara kasat mata agendanya lebih banyak tidak olahraga daripada olahraganya.
Ada banyak faktor yang berujung pada kondisi saat ini, tapi di posting ini saya akan lebih fokus kepada arena olahraga. Seiring dengan perkembangan, arena olahraga juga harus turut berubah.
Arena olahraga bukan lagi hanya menjadi tempat atlet berlaga dan penonton memberikan dukungan bagi atlet kesayangannya. Sekarang ini, arena olahraga harus memiliki kemampuan rekreasi dan bisnis.
Rekreasi dalam arti pengunjung arena tidak hanya untuk menonton pertandingan saja, tapi mendapatkan pengalaman menonton olahraga yang lebih lengkap. Selain mendapatkan kemudahan mendapatkan makanan dan minuman yang mak nyus serta merchandise, arena juga dilengkapi dengan tayangan dan statistik pertandingan di monitor (membuat saya bertanya-tanya kapan display di stadion Bung Karno akan diganti?) bahkan sampai ke perangkat genggam yang dibawa penonton. Di lingkungan arena juga bisa dimasukkan layar display yang interaktif, termasuk untuk pengiklan, memberikan petunjuk arah dan lainnya.
Keamanan juga terjaga karena setiap tiket dilengkapi dengan RFID. Berguna untuk mendeteksi pergerakan penonton dan membagi-bagi wilayah keramaian.
Media juga mendapat perhatian penting di arena ini. Koneksi WiFi bisa didapat di semua sisi arena, sampai ke pinggir lapangan. Para jurufoto yang harus mengupdate setiap saat foto-fotonya ke situs berita, tanpa beranjak dari sisi lapangan bisa langsung mengirimkannya ke redaksi. Para wartawan tulis juga tidak perlu beranjak dari tempat duduknya untuk mengirimkan laporan pertandingan.
Dengan menyediakan pengalaman menonton yang lengkap, maka diharapkan kompetisi olahraga menjadi semakin bergairah. Penonton yang terus datang dapat memberikan pemasukan bagi pengelola arena, pengelola pertandingan dan juga klub. Pemasukan tersebut selain untuk pemeliharaan arena juga digunakan untuk membina atlet-atlet.
Investasi yang ditanamkan di arena olahraga adalah pilihan untuk menggerakkan unsur-unsur pendukung olahraga. Termasuk kelayakan Indonesia menjadi tuan rumah ajang internasional.
Recent Comments